JAKARTA – Lowongan kerja palsu banyak ditemukan di era digital saat ini melalui tawaran pekerjaan paruh waktu atau freelance online semakin mudah ditemukan melalui media sosial, WhatsApp, Telegram, hingga iklan di Facebook dan Instagram. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melalui Buletin Berita Edukasi Siber Sosial Terkini (BESTI) secara rutin mengeluarkan peringatan terkait modus ini, seperti yang disebarkan di akun resmi Instagram @bssn_ri.
- 1. Pekerjaan Terlalu Mudah dengan Bayaran Fantastis
- 2. Tidak Ada Tahap Interview atau Seleksi Formal
- 3. Komunikasi Tidak Resmi, Hanya Lewat Chat Pribadi atau Grup
- 4. Permintaan Deposit, Top-up, atau Biaya di Awal
- 5. Modus Dimulai dari Iklan Mencurigakan lalu Digiring ke Grup
- Tips Praktis Menghindari Penipuan Lowongan Kerja Online
Indonesia bahkan menjadi hotspot penipuan lowongan kerja terbesar di Asia Pasifik. Berdasarkan data dari SEEK Indonesia menyumbang 38% dari seluruh upaya penipuan di kawasan Asia Pasifik dan 62% dari total penipuan lowongan kerja di Asia. Modus paling marak adalah tawaran tugas sederhana seperti like, subscribe, atau review konten media sosial, yang awalnya memberikan komisi kecil untuk membangun kepercayaan, sebelum berujung pada permintaan deposit yang tidak bisa dikembalikan.
Menurut data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS Agustus 2025, jumlah pekerja informal mencapai sekitar 84,58 juta orang atau 57,80% dari total penduduk bekerja, dengan banyak di antaranya bergantung pada pekerjaan lepas berbasis teknologi. Kondisi ini membuat masyarakat rentan terhadap tawaran instan yang sebenarnya palsu.
Berikut 5 ciri utama lowongan kerja palsu yang perlu dikenali:
1. Pekerjaan Terlalu Mudah dengan Bayaran Fantastis
Tawaran seperti “cukup like, share, follow, atau review, dapat Rp500 ribu–Rp2 juta per hari” tanpa skill khusus. Perusahaan kredibel tidak pernah menjanjikan gaji tinggi tanpa kualifikasi jelas atau proses seleksi.
2. Tidak Ada Tahap Interview atau Seleksi Formal
Langsung diterima tanpa wawancara, tes, atau pengiriman CV lengkap. Modus ini sering digunakan untuk mempercepat korban masuk jebakan.
3. Komunikasi Tidak Resmi, Hanya Lewat Chat Pribadi atau Grup
Menggunakan nomor WhatsApp/Telegram pribadi, email gratisan, atau grup anonim tanpa email resmi perusahaan (@domainperusahaan.com). BSSN dalam BESTI menekankan kurangnya identitas resmi sebagai tanda bahaya.
4. Permintaan Deposit, Top-up, atau Biaya di Awal
Setelah tugas kecil dibayar sedikit, korban diminta transfer untuk “biaya administrasi”, “aktivasi akun”, atau “tugas premium”. Ingat: perusahaan sah tidak pernah meminta uang dari pelamar.
5. Modus Dimulai dari Iklan Mencurigakan lalu Digiring ke Grup
Lowongan kerja yang menipu biasanya memiliki alur yang sama. Pertama, korban menerima iklan via medsos yang kemudian akan diundang pada suatu grup. Lalu, korban akan diberikan tugas mudah berbayar awal dan berujung diminta deposit. Setelah itu, pelaku menghilang
Tips Praktis Menghindari Penipuan Lowongan Kerja Online
- Verifikasi perusahaan melalui situs resmi, LinkedIn, atau Google.
- Jangan pernah transfer uang di tahap awal.
- Laporkan ke polisi siber via patrolisiber.id atau BSSN jika curiga.
- Gunakan platform terpercaya seperti Jobstreet, Glints, atau LinkedIn.
- Waspadai fakta bahwa 90% serangan siber berasal dari kesalahan manusia (human error), termasuk tergiur tawaran instan