JAKARTA — Sejarah pers Indonesia ternyata sudah dimulai sejak era kolonial Belanda, jauh sebelum bangsa ini merdeka. Salah satu tonggak pentingnya adalah Bataviasche Nouvelles, surat kabar tercetak pertama yang terbit di Batavia, sekarang Jakarta. Meski hanya bertahan singkat, kehadirannya menandai awal perkembangan jurnalistik di tanah air.
- 1. Cikal bakal pers Indonesia justru bukan surat kabar umum, melainkan lembaran berita internal VOC
- 2. Mesin cetak masuk ke Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-17
- 3. Bataviasche Nouvelles terbit pertama kali pada 1744 sebagai surat kabar tercetak pertama
- 4. Isi koran didominasi informasi resmi VOC dan iklan
- 5. Koran ini hanya bertahan 16 bulan karena kekhawatiran VOC
Berikut lima fakta penting yang perlu diketahui tentang Bataviasche Nouvelles dan awal mula pers di Indonesia yang bersumber dari artikel Kompas.com dan Historia.id:
1. Cikal bakal pers Indonesia justru bukan surat kabar umum, melainkan lembaran berita internal VOC
Praktik jurnalistik di Indonesia sudah ada sejak abad ke-17, tepatnya melalui Memorie der Nouvelles yang terbit mulai 1615 hingga 1644. Lembaran ini diterbitkan atas perintah Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC saat itu. Berbeda dengan surat kabar modern, Memorie der Nouvelles ditulis tangan di atas kertas folio dengan hanya empat halaman.
Isinya terbatas pada kegiatan perdagangan VOC, kedatangan serta keberangkatan kapal, dan informasi dari pos-pos dagang Belanda di Batavia maupun daerah lain, termasuk Ambon. Lembaran ini tidak dijual bebas kepada masyarakat, melainkan hanya disebarkan kepada pejabat dan pegawai VOC. Karena ditulis manual, jumlah eksemplarnya sangat terbatas. Para sejarawan menganggap Memorie der Nouvelles sebagai embrio praktik jurnalistik di Indonesia.
2. Mesin cetak masuk ke Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-17
Kehadiran mesin cetak menjadi syarat utama lahirnya surat kabar modern. Mesin cetak pertama tiba di Hindia Timur sekitar tahun 1659 hingga 1668, meski ada sedikit perbedaan pendapat antar sumber sejarah. Awalnya, mesin ini hanya dipakai untuk mencetak laporan resmi VOC, brosur, almanak, dan buku-buku keagamaan.
Penggunaan yang masih terbatas ini tetap menjadi fondasi penting. Tanpa teknologi cetak, sulit membayangkan munculnya publikasi berkala yang bisa menjangkau lebih banyak pembaca. Keberadaan mesin cetak inilah yang membuka jalan bagi Bataviasche Nouvelles beberapa dekade kemudian.
3. Bataviasche Nouvelles terbit pertama kali pada 1744 sebagai surat kabar tercetak pertama
Pada 7 Agustus 1744, Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen mulai terbit di Batavia. Penerbitnya adalah Jan Erdmans Jordens, seorang saudagar yang juga pegawai VOC. Koran ini muncul di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff (1743-1750).
Bataviasche Nouvelles menjadi surat kabar pertama di Indonesia yang dicetak dengan mesin dan diedarkan secara berkala. Formatnya sederhana, empat halaman dengan ukuran sedikit lebih besar dari folio serta tata letak dua kolom mirip buletin. Awalnya terbit mingguan, meskipun Jordens bercita-cita menjadikannya harian. Kontennya sangat terkendali dan sama sekali tidak memuat kritik terhadap VOC.
4. Isi koran didominasi informasi resmi VOC dan iklan
Rubrik utama Bataviasche Nouvelles berisi berita pengangkatan serta pemberhentian pejabat VOC, informasi perdagangan, kedatangan kapal, dan urusan administrasi perusahaan. Sebagian besar halaman justru dipenuhi iklan dan pengumuman lelang.
Ada pula berita sosial ringan, seperti laporan pesta dan jamuan makan, obituari, doa keselamatan kapal, serta artikel feature tentang sejarah awal koloni Belanda dan perkembangan gereja. Koran ini mendapat sambutan positif dari pejabat VOC dan masyarakat Batavia. Pada 9 Februari 1745, pemerintah kolonial bahkan memberikan hak paten dan izin usaha selama tiga tahun kepada Jordens.
5. Koran ini hanya bertahan 16 bulan karena kekhawatiran VOC
Meski izin usaha berlaku hingga 1748, Bataviasche Nouvelles berhenti terbit pada Juni 1746. Dewan Tujuh Belas (Heeren Zeventien), pimpinan tertinggi VOC di Amsterdam, khawatir informasi sensitif perusahaan bisa bocor ke pesaing Eropa lainnya.
Melalui surat resmi bertanggal 20 November 1745, dewan tersebut memerintahkan penghentian publikasi. Gubernur Jenderal Van Imhoff kemudian mencabut izin terbit pada 20 Juni 1746. Sejak itu, Bataviasche Nouvelles lenyap dari peredaran, menutup babak singkat namun bersejarah dalam perkembangan pers Indonesia.
Kehadiran Bataviasche Nouvelles, meski singkat, membuktikan bahwa kebutuhan akan informasi publik sudah muncul di masyarakat kolonial saat itu. Koran ini menjadi jembatan antara lembaran berita internal VOC dan surat kabar modern yang lebih bebas di masa berikutnya. Memahami sejarah awal pers membantu kita menghargai perjuangan jurnalis Indonesia hingga era kemerdekaan dan reformasi, ketika kebebasan pers akhirnya benar-benar diraih.
Dengan hanya bertahan sekitar satu setengah tahun, Bataviasche Nouvelles tetap tercatat sebagai pionir yang membuka mata masyarakat Hindia Belanda terhadap pentingnya publikasi berkala. Kisahnya mengingatkan kita bahwa perkembangan media selalu dipengaruhi oleh kekuasaan politik dan ekonomi pada masanya.