JAKARTA — Harga bitcoin mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (5/2/2026). Aset kripto terbesar di dunia ini sempat menembus level 64.000 dolar AS atau setara dengan sekitar Rp1,07 miliar, berdasarkan asumsi kurs Rp16.830 per dolar AS. Mengutip laporan dari CNBC pada Jumat, 6 Februari 2026, bitcoin bahkan menyentuh titik terendah di 62.303,19 dolar AS atau sekitar Rp991 juta, yang merupakan level paling rendah sejak November 2024. Saat ini, harga bitcoin diperdagangkan di kisaran 63.010 dolar AS atau sekitar Rp1 miliar.
Penurunan ini memperpanjang tren koreksi yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Sejak mencapai puncaknya di atas 126.000 dolar AS pada awal Oktober 2025, nilai aset ini telah terkoreksi lebih dari 45 persen. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, terutama di tengah volatilitas pasar kripto yang tinggi.
Meski demikian, pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi harga bitcoin menjadi kunci bagi para pelaku pasar untuk mengambil keputusan yang tepat. Berikut penjelasannya secara rinci:
1. Permintaan dan Penawaran Pasar
Salah satu fondasi utama yang memengaruhi harga bitcoin adalah keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Bitcoin memiliki pasokan terbatas hanya 21 juta koin, yang membuatnya semakin langka seiring waktu. Ketika permintaan meningkat, harga cenderung naik karena ketersediaan yang minim.
Selain itu, peristiwa halving yang terjadi setiap sekitar empat tahun memotong reward bagi penambang menjadi setengah, sehingga memperlambat laju pasokan baru. Hal ini sering kali menjadi katalisator kenaikan harga, seperti yang terlihat pada siklus sebelumnya.
Pada konteks saat ini, penurunan harga bitcoin bisa dipengaruhi oleh penurunan permintaan akibat ketidakpastian ekonomi global. Investor yang lebih memilih aset aman seperti obligasi atau emas cenderung mengurangi alokasi mereka di kripto, yang pada akhirnya menekan nilai pasar. Solusi untuk mengantisipasi hal ini adalah para trader disarankan memantau data on-chain seperti volume transaksi dan jumlah dompet aktif, yang bisa memberikan indikasi awal perubahan tren.
2. Sentimen Pasar dan Psikologi Investor
Sentimen pasar memainkan peran krusial dalam menentukan harga bitcoin. Fenomena seperti Fear of Missing Out (FOMO) bisa mendorong lonjakan harga secara cepat ketika investor berebut masuk ke pasar. Sebaliknya, Fear, Uncertainty, and Doubt (FUD) sering kali menyebabkan penurunan tajam, terutama jika dipicu oleh berita negatif. Berita positif atau negatif sering langsung tercermin di harga, bahkan sebelum dampak nyata terasa.
Contohnya, pernyataan dari tokoh publik atau influencer di media sosial bisa mempercepat penyebaran sentimen. Di Indonesia, di mana adopsi kripto semakin meningkat, sentimen ini juga dipengaruhi oleh diskusi di platform lokal. Investor disarankan menggunakan tools analisis sentimen seperti yang tersedia di platform trading untuk mengukur mood pasar secara real-time.
3. Regulasi dan Kebijakan Pemerintah
Regulasi dari pemerintah menjadi faktor penentu yang tidak boleh diabaikan. Aturan ketat, seperti pelarangan atau pajak tinggi, biasanya menekan harga bitcoin karena mengurangi kepercayaan investor. Sebaliknya, regulasi yang jelas dan mendukung inovasi bisa meningkatkan nilai aset karena memberikan rasa aman. Di tingkat global, kebijakan dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat atau Uni Eropa sering menjadi acuan.
Di Indonesia, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) telah mengatur aset kripto sebagai komoditas, yang membantu stabilisasi pasar. Namun, perubahan kebijakan seperti pengetatan pajak capital gain bisa memengaruhi minat investor lokal. Supaya tetap update, ikuti berita resmi dari lembaga pemerintah dan hindari spekulasi berdasarkan rumor, sesuai dengan prinsip jurnalistik yang menekankan akurasi dan keseimbangan.
4. Adopsi Institusional dan Kondisi Ekonomi Global
Masuknya institusi besar seperti bank atau perusahaan global ke pasar kripto sering menjadi pemicu kenaikan harga bitcoin. Peluncuran Exchange Traded Fund atau ETF bitcoin, misalnya, telah membuka pintu bagi investor institusional untuk berpartisipasi tanpa harus memegang aset secara langsung. Sebaliknya, jika institusi besar menjual aset mereka, harga bisa goyah secara signifikan.
Kondisi ekonomi global juga berpengaruh. Saat inflasi tinggi, bitcoin sering dilihat sebagai penyimpan nilai alternatif seperti emas digital. Namun, kenaikan suku bunga oleh bank sentral cenderung mendorong investor ke aset yang lebih aman, sehingga menekan harga. Krisis geopolitik atau ekonomi, seperti yang terjadi belakangan ini, bisa memperburuk volatilitas.
Di tengah penurunan saat ini, adopsi institusional di Asia, termasuk Indonesia, diharapkan bisa menjadi penopang pemulihan. Data dari Chainalysis menunjukkan bahwa adopsi kripto di Asia Tenggara terus tumbuh, yang potensial mendukung stabilisasi harga.
5. Pergerakan Whale serta Faktor Teknologi dan Keamanan
Pemilik bitcoin dalam jumlah besar atau whale bisa memengaruhi harga melalui transaksi besar mereka. Karena pasar kripto masih relatif kecil, dampak dari aksi whale ini terasa sangat kuat, baik untuk kenaikan maupun penurunan. Selain itu, faktor teknologi seperti upgrade jaringan atau inovasi skalabilitas memberikan sentimen positif, sementara kasus peretasan exchange atau bug keamanan bisa menimbulkan penurunan harga.
Di era digital saat ini, keamanan menjadi prioritas. Investor disarankan menggunakan wallet hardware dan platform terverifikasi untuk mengurangi risiko. Kasus-kasus seperti hack exchange besar di masa lalu telah mengajarkan pentingnya kehati-hatian. Dengan memahami faktor ini, investor bisa lebih siap menghadapi fluktuasi. Secara keseluruhan, kombinasi dari whale dan teknologi menjadikan pasar bitcoin dinamis, tetapi juga penuh risiko.