JAKARTA — Beberapa negara di dunia memang tidak memiliki bandara komersial sendiri. Namun, ketiadaan fasilitas tersebut justru tidak menghalangi jutaan wisatawan datang setiap tahunnya. Negara-negara kecil ini mengandalkan akses melalui bandara tetangga yang dekat, ditambah pesona alam, sejarah, serta pengalaman unik yang ditawarkan.
Berikut lima negara tanpa bandara yang tetap menarik minat turis global:
1. San Marino


Republik tertua di dunia ini terletak di puncak Gunung Titano dan dikelilingi sepenuhnya oleh wilayah Italia. Luas wilayahnya hanya sekitar 61 kilometer persegi, sehingga tidak ada ruang dan menjadi negara tanpa bandara. Wisatawan biasanya mendarat di Bandara Internasional Federico Fellini di Rimini, Italia, yang berjarak sekitar 20-25 kilometer. Dari Rimini, perjalanan dilanjutkan dengan bus reguler, taksi, atau mobil sewaan menuju pusat kota San Marino. Begitu tiba, pengunjung langsung disambut pemandangan menara batu kuno, benteng abad pertengahan, serta jalan berbatu yang terawat baik.
Banyak wisatawan menyukai suasana kota tua yang tenang, toko suvenir khas, serta panorama lembah yang indah dari ketinggian. San Marino juga terkenal dengan cap paspor resmi yang bisa dibeli sebagai kenang-kenangan, menambah daya tarik bagi para pencinta traveling unik.
2. Vatikan
Negara terkecil di dunia ini menjadi negara tanpa bandara karena hanya memiliki luas sekitar 0,44 kilometer persegi. Dengan ukuran sebesar itu, membangun landasan pacu tentu tidak mungkin dilakukan. Vatikan justru mengandalkan Bandara Internasional Leonardo da Vinci-Fiumicino di Roma, Italia, yang berjarak sekitar 30 kilometer. Setelah mendarat, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan dengan kereta, bus, taksi, atau bahkan berjalan kaki jika menginap di sekitar Roma. Banyak pelancong tiba di pagi hari, mengunjungi Basilika Santo Petrus, Museum Vatikan, serta Kapel Sistina, lalu menyaksikan pemberkatan Paus di Lapangan Santo Petrus.
Tak jarang mereka menyempatkan diri menikmati es krim atau kopi di kawasan sekitar setelah keluar dari wilayah Vatikan. Akses yang mudah dari Roma membuat jutaan orang setiap tahunnya tetap memilih destinasi rohani dan budaya ini tanpa merasa terganggu oleh ketiadaan bandara.
3. Andorra
Terletak di Pegunungan Pyrenees antara Spanyol dan Prancis, Andorra memprioritaskan keindahan alam dan fasilitas ski ketimbang infrastruktur penerbangan. Negara tanpa bandara ini mudah dijangkau dari dua bandara besar: Bandara Barcelona-El Prat di Spanyol atau Bandara Toulouse-Blagnac di Prancis. Perjalanan darat dari Barcelona memakan waktu sekitar tiga hingga empat jam melalui jalan pegunungan yang menawarkan pemandangan spektakuler.
Banyak wisatawan memilih bus reguler yang nyaman dan terjangkau. Bagi yang menginginkan pengalaman lebih eksklusif, tersedia layanan helikopter dari kedua kota tersebut. Andorra terkenal dengan resor ski kelas dunia di musim dingin serta pusat perbelanjaan bebas pajak sepanjang tahun. Pemandangan bersalju, jalur hiking, serta desa-desa tradisional Catalan membuat negara kecil ini selalu ramai dikunjungi, terutama oleh wisatawan Eropa yang mencari liburan pegunungan berkualitas.
4. Liechtenstein
Negara kecil yang terjepit di antara Swiss dan Austria ini merupakan negara tanpa bandara yang komersial. Luas wilayahnya sekitar 160 kilometer persegi, namun topografi berbukit membuat pembangunan landasan pacu sulit dilakukan. Akses utama datang dari Bandara Zurich di Swiss, yang berjarak sekitar satu hingga satu setengah jam perjalanan darat. Wisatawan bisa naik kereta hingga ke stasiun Buchs atau Sargans, lalu melanjutkan dengan bus pos Swiss yang nyaman.
Begitu memasuki Liechtenstein, pemandangan Pegunungan Alpen langsung menyapa. Vaduz, ibu kotanya, memiliki kastil kerajaan yang ikonik, museum seni modern, serta jalur pejalan kaki di sepanjang Sungai Rhein. Banyak turis Eropa memanfaatkan negara ini sebagai perhentian singkat sambil menikmati desa-desa cantik, kebun anggur, dan suasana tenang khas Eropa Tengah. Ketiadaan bandara justru membuat perjalanan terasa lebih santai dan dekat dengan alam.
5. Monako
Meski dikenal sebagai surga kemewahan dengan yacht mewah, hotel bintang lima, serta sirkuit Formula 1 legendaris, Monako merupakan negara tanpa bendara komersial. Wilayahnya yang hanya sekitar dua kilometer persegi membuat pembangunan landasan pacu tidak realistis. Bandara terdekat adalah Nice Côte d’Azur di Prancis, berjarak sekitar 30 menit perjalanan darat. Banyak pelancong memilih opsi helikopter dari Nice langsung ke Monaco Heliport di distrik Fontvieille, yang hanya memakan waktu beberapa menit.
Alternatif lain adalah naik kereta atau mobil melalui jalan pesisir yang indah. Sesampainya di sana, wisatawan bisa menikmati suasana glamor di Casino de Monte-Carlo, menonton balapan mobil, atau sekadar berjalan-jalan di pelabuhan Hercules yang dipenuhi superyacht. Kombinasi kemewahan, acara internasional, dan lokasi strategis menjadikan Monako tetap menjadi salah satu destinasi paling ikonik di Riviera Prancis, meski tanpa bandara sendiri.
Kelima negara tanpa bandara ini membuktikan bahwa ketiadaan bandara tidak menghalangi potensi wisata. Justru, akses yang bergantung pada tetangga besar sering kali membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan, karena wisatawan bisa merasakan transisi budaya dan pemandangan yang beragam sejak dari bandara awal. Bagi para traveler, pengalaman mengunjungi negara-negara ini sering kali menjadi cerita tersendiri yang tak terlupakan.




