JAKARTA — Adalah wajib bagi mahasiswa yang sudah menduduki perguruan tinggi untuk memiliki kemampuan berpikir kritis. Kemampuan ini membantu menganalisis informasi secara mendalam, membuat keputusan yang lebih baik, dan menghindari jebakan hoaks atau opini yang tidak berdasar. Berpikir kritis bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih secara bertahap melalui kebiasaan sehari-hari.
Berikut enam cara praktis yang dapat diterapkan mahasiswa untuk mengasah kemampuan tersebut:
1. Biasakan Bertanya Mengapa dan Bagaimana
Kebanyakan orang hanya berhenti pada pertanyaan apa dan siapa. Padahal, pertanyaan mengapa dan bagaimana jauh lebih efektif untuk melatih otak berpikir lebih dalam. Saat membaca materi kuliah, mendengar penjelasan dosen, atau mengikuti berita, coba ajukan pertanyaan mengapa pada setiap isu yang sedang hadapi. Tanyakan bagaimana implementasinya di lapangan. Tanyakan apa dasar dari opini atau argument yang disampaikan seseorang? Kebiasaan ini mendorong otak untuk tidak langsung menerima informasi begitu saja, melainkan memprosesnya secara aktif.
2. Terapkan Membaca Aktif
Membaca sekadar untuk menyelesaikan tugas tidak cukup. Mahasiswa perlu melatih membaca aktif dengan mencatat argumen utama, mencari bukti pendukung, dan mengidentifikasi kelemahan atau potensi bias dalam tulisan. Cara sederhana adalah membandingkan satu sumber dengan sumber lain yang memiliki sudut pandang berbeda. Misalnya, bandingkan artikel jurnal tentang isu ekonomi dari dua penulis dengan latar belakang berbeda. Pendekatan ini secara bertahap meningkatkan kemampuan analisis dan pemahaman yang lebih utuh.
3. Latih Melihat dari Berbagai Perspektif
Banyak isu yang tidak hanya memiliki satu kebenaran mutlak. Untuk melatih berpikir kritis, biasakan melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Contohnya pada isu kebijakan publik, tanyakan Bagaimana pandangan pemerintah? Bagaimana tanggapan kelompok masyarakat sipil? Siapa yang diuntungkan dan siapa yang mungkin dirugikan? Latihan ini membantu mengembangkan pola pikir yang lebih tajam dan objektif karena memaksa otak untuk memproses informasi secara multidimensi.
4. Lakukan Diskusi Berbasis Argumen
Diskusi yang sehat bukan ajang adu opini atau emosi, melainkan tempat untuk menguji logika. Saat berdiskusi di kelas, organisasi kampus, atau kelompok belajar, pastikan argumen didukung data, fakta, atau teori yang relevan. Sikap terbuka untuk dikoreksi atau mengoreksi orang lain juga penting. Diskusi seperti ini menjadi sarana efektif untuk mengasah kemampuan berpikir kritis sekaligus melatih komunikasi yang logis dan terstruktur.
5. Latih Menulis Analitis
Menulis adalah salah satu cara terbaik untuk melatih berpikir secara runtut. Coba tulis esai pendek, opini berbasis data, atau ringkasan bacaan dengan bahasa sendiri. Proses menulis memaksa penyusunan argumen secara logis, mulai dari tesis hingga kesimpulan. Mahasiswa dapat memulai dengan menulis refleksi mingguan tentang topik kuliah atau isu aktual. Semakin sering berlatih, semakin terasa peningkatan dalam kemampuan mengorganisir pikiran.
6. Kritis terhadap Konten Media Sosial
Mahasiswa sering terpapar informasi cepat, tetapi dangkal di media sosial. Sebelum menerima atau membagikan suatu konten, lakukan verifikasi sederhana dengan mengecek sumbernya, periksa data yang digunakan, dan identifikasi kemungkinan kepentingan di balik informasi tersebut. Kebiasaan ini menjadi latihan berpikir kritis yang paling sering dilakukan sehari-hari, sekaligus melindungi dari penyebaran hoaks yang merugikan.