Ibu kota Iran, Teheran, yang dikenal dengan hiruk-pikuk lalu lintas dan pegunungan Alborz yang menjulang di utara, kini menghadapi ancaman terbesar: kekeringan parah yang membuat keran air hampir kering.
Dengan curah hujan hanya 1 mm sepanjang tahun ini—fenomena yang belum pernah terjadi dalam satu abad—dan enam tahun berturut-turut dilanda kekeringan, Teheran berisiko mencapai “hari nol” dalam waktu dekat.
Presiden Masoud Pezeshkian bahkan memperingatkan kemungkinan evakuasi sebagian penduduk jika hujan tak kunjung datang. Situasi ini bukan hanya bencana alam, tapi juga akibat pengelolaan sumber daya yang buruk, memicu doa massal, operasi cloud-seeding, dan protes warga.
Penyebab Krisis: Dari Perubahan Iklim hingga Kesalahan Manusia
Iran, negara semi-gurun yang bergantung pada sungai-sungai dari pegunungan Alborz dan Zagros, kini memasuki tahun keenam kekeringan berturut-turut—yang terburuk dalam 60 tahun terakhir. Curah hujan nasional turun 81% dibandingkan rata-rata historis, dengan Teheran hanya menerima 2,3 mm hingga awal November. Suhu musim panas mencapai di atas 50°C, mempercepat penguapan air dari waduk dan sungai.
Sungai Kan, sumber utama air Teheran yang mengalir dari lereng Alborz ke dataran kota, kini benar-benar kering. Waduk Latyan dan Amir Kabir, yang memasok air minum bagi 15 juta penduduk Teheran, hanya tersisa 8-14% kapasitasnya.
Perubahan iklim memperburuk situasi, tapi para ahli seperti Amir AghaKouchak dari UC Irvine menekankan bahwa pengelolaan air yang buruk adalah biang kerok utama: 90% air Iran digunakan untuk pertanian yang hanya menyumbang 12% PDB, dengan metode irigasi kuno yang boros.
Di Teheran, pemadaman air malam hari sudah diberlakukan sejak minggu lalu, dengan tekanan air ditekan hingga 50% di 80% rumah tangga. Harga air kemasan melonjak, dengan pembelian dibatasi, sementara peternakan dan industri terancam tutup. Pada 14 November, ratusan orang berkumpul di Masjid Imamzadeh Saleh untuk doa hujan massal, mengenang “mukjizat” serupa di masa lalu.
Upaya Pemerintah: Cloud-Seeding dan Rasioning Darurat
Pada 16 November, otoritas Iran meluncurkan operasi cloud-seeding darurat—menaburkan bahan kimia ke awan untuk memicu hujan—di tengah musim gugur terkering dalam 50 tahun. Meski ada hujan ringan di barat dan salju pertama di resor ski utara Teheran, curah hujan keseluruhan masih 89% di bawah rata-rata.
Rasioning air bergulir direncanakan di Teheran, Isfahan, Tabriz, dan Mashhad, dengan kampanye penghematan prioritas untuk layanan esensial. Presiden Pezeshkian menjanjikan “keputusan mendesak” di rapat kabinet, termasuk reformasi irigasi pertanian. Namun, sanksi AS di bawah pemerintahan Trump yang baru membuat impor teknologi sulit.
Masa Depan Teheran: Ancaman Lebih Luas bagi Iran
Jika kekeringan berlanjut satu bulan lagi, evakuasi parsial Teheran bisa jadi kenyataan—sebuah mimpi buruk bagi kota berpenduduk 15 juta jiwa. Krisis ini meluas ke separuh provinsi Iran yang tak hujan berbulan-bulan, mengancam produksi pangan dan stabilitas sosial.
Ahli memperingatkan: Tanpa perubahan radikal, “nature” sedang melakukan apa yang tak bisa dilakukan sanksi atau serangan udara—membuat Iran lumpuh. Bagi warga Teheran, harapan kini bergantung pada awan yang tak kunjung datang. Di tengah spanduk penghematan air yang menghiasi dinding kota, satu pesan jelas: Krisis air ini lebih serius dari yang dibicarakan, dan waktu semakin menipis.