JAKARTA – Nama Jalan Raya Daan Mogot menghubungkan Jakarta Barat dan Tangerang, sering dilalui jutaan orang setiap hari. Namun, banyak yang belum tahu kisah inspiratif di balik nama itu. Mayor Daan Mogot adalah pahlawan nasional yang gugur di usia sangat muda saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
- 1. Nama Lengkap dan Latar Belakang Keluarga
- 2. Pendidikan Awal dan Masuk Dunia Militer di Usia Belia
- 3. Cepat Naik Pangkat di PETA
- 4. Pendiri dan Direktur Pertama Akademi Militer Tangerang
- 5. Gugur dalam Peristiwa Lengkong
- 6. Keberanian hingga Detik Terakhir
- 7. Kisah Cinta yang Menyentuh dan Warisan Abadi
Berikut 7 fakta penting tentang perjalanan hidup Elias Daniel Mogot, sang perwira remaja yang penuh dedikasi:
1. Nama Lengkap dan Latar Belakang Keluarga
Nama baptisnya Elias Daniel Mogot. Ia lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 28 Desember 1928, dari pasangan Nicollas Mogot dan Emilia Inkiriwang (Mien). Daan adalah anak kelima dari tujuh bersaudara dan sejak kecil sudah menunjukkan minat besar pada dunia militer.
2. Pendidikan Awal dan Masuk Dunia Militer di Usia Belia
Daan Mogot menempuh pendidikan dasar di Europeesch Lager School (ELS). Pada 1942, saat berusia 14 tahun, ia menjadi anggota angkatan pertama Seinen Dojo, lalu bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang pada 1943.
3. Cepat Naik Pangkat di PETA
Prestasi dan kepandaiannya membuatnya diangkat menjadi pembantu instruktur PETA di Bali (1943), kemudian Shodanco PETA, dan bertugas di staf Markas PETA (Gugun Sidoarjo) Jakarta pada 1944–1945. Ia juga pernah ditempatkan di Markas Besar PETA.
4. Pendiri dan Direktur Pertama Akademi Militer Tangerang
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Daan Mogot bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan meraih pangkat Mayor. Bersama sahabatnya, Kemal Idris, ia menginisiasi pendirian sekolah militer nasional pertama. Pada 18 November 1945, Akademi Militer Tangerang (AMT) resmi berdiri, dan Daan Mogot menjadi direktur pertamanya, saat usianya belum genap 17 tahun.
5. Gugur dalam Peristiwa Lengkong
Pada 25 Januari 1946, Mayor Daan Mogot memimpin sekitar 70 taruna AMT untuk melucuti senjata pasukan Jepang di Lengkong, Serpong, yang dipimpin Kapten Abe. Penyerahan awalnya berlangsung damai, tapi tiba-tiba Jepang menyerang.
6. Keberanian hingga Detik Terakhir
Daan Mogot tertembak di paha kanan dan dada. Meski sudah terluka parah, ia masih sempat melawan sebelum akhirnya gugur dihujani peluru. Ia meninggal dunia pada usia 17 tahun 28 hari-satu bulan setelah ulang tahunnya yang ke-17.
7. Kisah Cinta yang Menyentuh dan Warisan Abadi
Daan Mogot memiliki kekasih bernama Hadjari Singgih. Saat pemakaman, Hadjari memotong rambut panjangnya yang mencapai pinggang dan menguburkannya bersama jenazah sang pahlawan sebagai tanda cinta dan pengorbanan. Namanya kini diabadikan sebagai pahlawan nasional serta nama jalan di berbagai kota sebagai penghormatan atas jasa-jasanya bagi Indonesia.Kisah Mayor Daan Mogot bukan sekadar catatan sejarah, melainkan teladan nyata bahwa semangat patriotisme dan keberanian bisa lahir dari usia yang sangat muda.
Pengorbanannya mengingatkan kita semua, terutama generasi muda, bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibayar dengan darah dan nyawa para pahlawan. Mari kita jadikan kisah Daan Mogot sebagai inspirasi untuk terus menjaga persatuan, menghargai perjuangan pendahulu, dan berkontribusi bagi bangsa, agar api juang mereka tetap menyala di hati setiap anak Indonesia.