Banjir bandang dan longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan beberapa wilayah Sumatera Barat sejak akhir pekan lalu telah menyebabkan kerusakan infrastruktur yang sangat parah.
Ribuan rumah terendam, ratusan jembatan dan ruas jalan putus, serta puluhan tower transmisi listrik roboh atau rusak berat. Akibatnya, sebagian besar wilayah terdampak masih mengalami pemadaman listrik total dan ada beberapa kecamatan yang benar-benar terisolasi.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, dalam keterangan resminya pada Sabtu (28/11) menyatakan bahwa pihaknya mengakui banyak tower transmisi listrik yang terdampak banjir dan tumbang, terutama di wilayah Biereun dan sejumlah kabupaten di Aceh lainnya.
“Kami langsung mengirim 7 unit tower emergency yang diangkut dengan 2 pesawat Hercules ke Aceh. Namun karena transportasi darat masih terputus total di banyak titik, pengangkutan material tower ke lokasi yang dibutuhkan akan dilakukan menggunakan helikopter. Proses pengangkutan material ini diperkirakan memakan waktu 2 hingga 2,5 hari,” ujar Darmawan.
Ia menargetkan dalam 4–5 hari ke depan, pasokan listrik di wilayah terdampak utama sudah dapat menyala kembali secara bertahap. “Kami kerahkan seluruh sumber daya yang ada, termasuk tim Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) dan personel tambahan dari provinsi tetangga,” tambahnya.
Presiden Prabowo Subianto, dalam rapat terbatas tanggap darurat bencana pada 28 November 2025, menegaskan agar semua sumber daya negara dikerahkan sepenuhnya untuk percepatan pemulihan di tiga provinsi tersebut.
“Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat harus secepatnya pulih. Semua kementerian, TNI, Polri, BNPB, Basarnas, dan BUMN saya minta bergerak all-out. Jangan ada lagi daerah yang terisolasi tanpa bantuan,” tegas Presiden Prabowo.
Saat ini, masih terdapat sejumlah desa dan kecamatan yang belum bisa dijangkau melalui jalur darat karena jalan utama putus dan jembatan hanyut. Pemerintah melalui Basarnas, TNI AU, dan Polairud melakukan evakuasi udara menggunakan helikopter untuk menyalurkan bantuan logistik serta mengevakuasi warga yang terjebak.
“Kami akan pulihkan aksesibilitas satu per satu. Daerah-daerah yang evakuasi daratnya masih sulit akan kami prioritaskan dengan evakuasi udara,” ujar Darmawan Prasodjo.
Hingga 29 November 2025 pukul 07.00 WIB data sementara BNPB mencatat pengungsi mencapai lebih dari 58.000 jiwa, rumah rusak mencapai 4.821 unit, jembatan putun 67 unit dan ruas jalan nasional/provinsi putus sebanyak 112 titik.
Pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan dan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi banjir susulan mengingat prakiraan cuaca BMKG masih menunjukkan hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Sumatra bagian utara hingga awal Desember 2025.