JAKARTA – Setiap 8 Oktober menjadi tanggal penting dalam sejarah perkeretaapian Jakarta. Pada 8 Oktober 1929, stasiun yang kini dikenal sebagai Stasiun Jakarta Kota resmi diresmikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Saat pertama kali dibuka, stasiun tersebut dikenal dengan nama Batavia Benedenstad. Pembangunannya merupakan bagian dari upaya mengintegrasikan jaringan kereta api di kawasan Batavia yang sebelumnya memiliki dua stasiun besar, yakni Batavia Noord dan Batavia Zuid.
Berawal dari Dua Stasiun di Batavia
Sebelum stasiun baru dibangun, kawasan Kota Tua memiliki dua stasiun yang lokasinya hanya berjarak sekitar 200 meter. Batavia Noord melayani jalur Batavia-Buitenzorg atau Jakarta-Bogor, sedangkan Batavia Zuid melayani jalur menuju Jakarta, Bekasi, hingga Karawang.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan perjalanan kereta menjadi kurang efisien. Penumpang yang harus berpindah rute bahkan perlu berjalan kaki dari satu stasiun ke stasiun lainnya.
Setelah perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS) menguasai jaringan tersebut, muncul gagasan untuk membangun sebuah stasiun terpadu yang dapat mengintegrasikan layanan kereta api di Batavia.
Dirancang Arsitek F.J.L. Ghijsels
Pembangunan stasiun baru kemudian dirancang oleh arsitek Belanda, Frans Johan Louwrens Ghijsels, dari biro Algemeen Ingenieurs en Architectenbureau (AIA).
Ghijsels merancang stasiun dengan konsep terminus atau stasiun akhir yang memiliki 12 jalur. Bangunannya dibuat lebar dengan bagian tengah beratap besi melengkung yang menjadi salah satu ciri khas arsitekturnya.
Pembangunan dilakukan oleh kontraktor Hollandse Beton Maatschappij. Setelah proses konstruksi selesai, Stasiun Batavia Benedenstad akhirnya diresmikan pada 8 Oktober 1929.
Peresmian Digelar Meriah
Pembukaan stasiun tersebut berlangsung cukup meriah. KAI mencatat adanya acara selamatan pada pagi hari yang dihadiri sekitar 500 pegawai pribumi.
Perayaan kemudian dilengkapi pertunjukan wayang dan tari ronggeng. Pada sore hari, dilakukan pula ritual penguburan dua kepala kerbau di depan pintu masuk stasiun sebagai bagian dari tradisi saat itu.
Malam harinya, pesta yang dihadiri pejabat dari Jakarta dan Bandung turut digelar untuk menandai pembukaan stasiun baru tersebut.
Jadi Cagar Budaya hingga Sekarang
Stasiun yang kini dikenal sebagai Stasiun Jakarta Kota tersebut memiliki gaya arsitektur Art Deco. Bangunannya dirancang dengan fasad monumental, lengkungan besar, serta ruang dalam yang luas.
Stasiun Jakarta Kota kemudian ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. KAI mencatat status tersebut tercantum dalam registrasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata serta berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993.
Lebih dari sembilan dekade setelah diresmikan, Stasiun Jakarta Kota masih menjalankan fungsi utamanya sebagai simpul transportasi. Stasiun ini juga menjadi bagian penting dari kawasan Kota Tua Jakarta dan salah satu peninggalan arsitektur perkeretaapian dari era kolonial yang masih digunakan hingga sekarang.