JAKARTA – Siaran langsung proses inaugurasi Paus Leo XIV bisa disaksikan melalui link live streaming Garuda TV di LINK INI.
- Mengapa Disebut Inaugurasi, Bukan Pelantikan?
- Ketentuan Hukum: Kapan Seorang Kardinal Resmi Menjadi Paus?
- Misa Inaugurasi Paus Leo XIV: Seremoni dan Spiritualitas Bertemu
- Simbol-Simbol Inaugurasi: Bahasa Rohani dan Tradisi Apostolik
- Ritus Inaugurasi: Liturgi yang Menyeluruh dan Simbolik
- Ritus Ketaatan dan Doa Universal
- Doa Penutup dan Berkat Apostolik
Dalam dunia sekuler, jabatan tinggi seperti presiden atau perdana menteri selalu didahului oleh pelantikan resmi.
Namun, dalam Gereja Katolik, jabatan Paus bukan hasil keputusan politik atau administratif, melainkan buah pemilihan rohani yang mengakui bimbingan Roh Kudus.
Oleh karena itu, bukan istilah “pelantikan” yang digunakan, melainkan inaugurasi—sebuah perayaan suci untuk menandai awal pelayanan Petrus yang baru di dunia.
Paus Leo XIV secara resmi memulai tugas kepausannya sebagai Uskup Roma dan pemimpin tertinggi Gereja Katolik.
Melalui perayaan liturgi agung di Basilika dan Lapangan Santo Petrus pada Sabtu, 18 Mei pukul 10:00 WIB atau pukul 15.00 WIB.
Berikut ini 7 fakta penting yang perlu diketahui proses inaugurasi Paus Leo XIV, dikutip dari Vatican News:
Mengapa Disebut Inaugurasi, Bukan Pelantikan?
Istilah inaugurasi berasal dari kata Latin inaugurare, yang dalam tradisi Romawi kuno berarti “menandai awal suatu tugas setelah membaca tanda-tanda ilahi”.
Para augur—imam Romawi—menafsirkan gerak burung di langit sebagai tanda apakah seorang calon layak menjalankan tugas negara.
Gereja Katolik mengambil istilah ini bukan dalam arti pagan, tetapi dalam kerangka spiritual.
Dalam konteks Gereja, inaugurasi menandakan bahwa seorang Paus memulai pelayanannya karena “dipilih dan disahkan oleh Tuhan”, bukan manusia.
Jadi, Paus tidak dilantik oleh siapa pun, karena tidak ada otoritas yang lebih tinggi darinya di bumi. Ia menerima kuasa rohani secara langsung, sebagai penerus Rasul Petrus.
Ketentuan Hukum: Kapan Seorang Kardinal Resmi Menjadi Paus?
Dalam Konstitusi Apostolik Universi Dominici Gregis, dikatakan bahwa seseorang yang terpilih menjadi Paus oleh Konklaf langsung memperoleh kuasa penuh setelah menerima hasil pemilihan, selama ia telah menerima tahbisan uskup. Bila belum, ia harus terlebih dahulu ditahbiskan.
Dalam kasus Kardinal Robert Francis Prevost, yang telah ditahbiskan sebagai uskup sejak 2014, ia langsung sah menjadi Paus ke-267 ketika menerima pemilihannya dan memilih nama pontifikal Leo XIV pada 8 Mei 2025.
Inilah momen ketika otoritas apostolik ditransmisikan kepadanya, menjadikannya Uskup Roma dan pemimpin seluruh umat Katolik di dunia.
Misa Inaugurasi Paus Leo XIV: Seremoni dan Spiritualitas Bertemu
Inaugurasi Paus Leo XIV berlangsung pada Minggu, 18 Mei 2025, di Lapangan Santo Petrus. Ini adalah misa publik pertama yang dipimpin oleh Leo XIV sebagai Uskup Roma.
Ribuan umat memadati lapangan, sementara puluhan delegasi dari negara dan gereja di seluruh dunia hadir menyaksikan peristiwa historis ini.
Acara ini bukan sekadar perkenalan dengan umat, tetapi momen simbolik bahwa kepemimpinan rohani Gereja berpindah tangan, di hadapan dunia dan dalam terang iman Kristiani.
Simbol-Simbol Inaugurasi: Bahasa Rohani dan Tradisi Apostolik
Pallium: Lambang Gembala
Pallium adalah kain wol putih berbentuk kalung dengan enam salib hitam.
Ini melambangkan Yesus sebagai Gembala Baik dan tanggung jawab Petrus untuk menggembalakan umat Allah.
Pallium juga dipakai oleh Uskup Agung Metropolit, tetapi pallium Paus bersifat universal—melambangkan otoritas atas seluruh Gereja.
Dipasang di pundak Paus, pallium mengingatkan bahwa tugasnya adalah membawa domba-domba tersesat kembali ke kandang Kristus.
Cincin Nelayan: Meterai dan Misi
Cincin Nelayan (Anulus Piscatoris) terbuat dari emas dan diukir dengan gambar Santo Petrus memancing dari perahu.
Dulu, cincin ini juga berfungsi sebagai meterai resmi dokumen Kepausan.
Cincin ini menggambarkan peralihan Petrus dari seorang nelayan Galilea menjadi penjala manusia.
Paus, sebagai penerus Petrus, mewarisi misi ini: menyelamatkan jiwa dan memelihara iman umat.
Ritus Inaugurasi: Liturgi yang Menyeluruh dan Simbolik
Sebelum misa, Paus Leo XIV mengunjungi makam Santo Petrus di bawah Basilika.
Ia membakar dupa dan berdoa, menandai kontinuitas spiritual dan historis antara dirinya dan Petrus.
Dalam prosesi menuju altar, dinyanyikan lagu Laudes Regiae—pujian kepada Kristus dan doa untuk Paus.
Permadani bergambar Petrus dan mujizat penangkapan ikan digantung di gerbang basilika, mengingatkan pada panggilan awal Petrus oleh Yesus.
Liturgi Sabda menampilkan bacaan dari Kisah Para Rasul, Surat Petrus, dan Injil Yohanes pasal 21: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Tiga Kardinal senior menyerahkan pallium dan Cincin Nelayan kepada Paus.
Setelah menerima simbol-simbol tersebut, Paus memberikan berkat pertama sebagai Uskup Roma kepada seluruh dunia.
Ritus Ketaatan dan Doa Universal
Dua belas perwakilan umat dari berbagai bangsa dan status—termasuk kardinal, biarawan, awam, pria, wanita, dan kaum muda—mendekat untuk mencium tangan Paus sebagai tanda ketaatan.
Ini simbol kesatuan seluruh Gereja di bawah satu gembala.
Doa-doa universal pun dipanjatkan bagi dunia, Gereja, bangsa-bangsa, serta mereka yang menderita dan tersingkirkan.
Ini memperlihatkan peran Paus tidak hanya sebagai pemimpin Gereja, tetapi juga suara moral bagi kemanusiaan global.
Doa Penutup dan Berkat Apostolik
Setelah perayaan Ekaristi, Paus menyampaikan homili dan doa singkat.
Ia memimpin doa Regina Caeli dan memberikan Berkat Apostolik Urbi et Orbi kepada kota Roma dan seluruh dunia.
Dalam doanya, Paus Leo XIV menyerukan perdamaian, keadilan, dan pengharapan.
Epilog: Awal Baru di Bawah Terang Petrus
Dengan inaugurasi ini, Leo XIV bukan hanya menjadi pemimpin Gereja Katolik, tetapi juga simbol kesatuan, pewaris warisan apostolik, dan gembala umat Kristiani sejagat.
Prosesi ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan peneguhan bahwa Gereja, dalam arus sejarahnya, terus melanjutkan misi Kristus lewat para penerus Petrus.***
