JAWA TENGAH— Ledakan pernikahan dini dan kehamilan remaja di Jawa Tengah menjadi alarm keras bagi masa depan generasi bangsa. Minimnya edukasi kesehatan reproduksi (kespro) terbukti menjadi akar persoalan yang memicu putus sekolah, pengangguran, hingga lahirnya generasi rentan stunting.
Melihat ancaman ini, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Tengah tak tinggal diam. Edukasi kespro terus digencarkan, salah satunya melalui pembinaan di Panti Pelayanan Sosial Anak (PPSA) Wira Adhi Karya, Ungaran, Kabupaten Semarang, pada Senin, 19 Mei 2025.
“Kualitas remaja hari ini akan menentukan kualitas keluarga dan generasi di masa depan,” tegas Ketua Tim Kerja KBKR BKKBN Jateng, Agoes Poedjianto.
Ia mengingatkan, kegagalan membina generasi muda sama saja dengan menggagalkan pembangunan jangka panjang. Oleh sebab itu, edukasi kespro bukan sekadar program, melainkan investasi penting untuk mencetak keluarga tangguh dan generasi unggul.
PPSA: Bukan Sekadar Tempat Tinggal, tapi Tempat Membangun Masa Depan
PPSA Wira Adhi Karya hadir sebagai rumah kedua bagi remaja putus sekolah dan anak terlantar. Tak hanya diajarkan keterampilan hidup seperti menjahit, salon, dan pengelasan, mereka juga dibekali pemahaman mendalam tentang kesiapan menikah secara fisik dan mental.
“Kami ingin mereka siap, tidak hanya secara keterampilan kerja, tapi juga siap menjalani pernikahan secara sehat dan bertanggung jawab,” ujar Kepala PPSA Wira Adhi Karya.
Pakar: Kehamilan di Usia Muda = Ancaman Serius
Pakar kesehatan reproduksi dr. Bina Muntafia Dewintari, Sp.OG, menjelaskan bahwa kehamilan di bawah usia 19 tahun sangat berisiko. Organ reproduksi yang belum matang bisa memicu keguguran, perdarahan, hingga kelahiran bayi prematur dan stunting.
“Belum lagi kesiapan mental yang rendah bisa berdampak pada pola asuh yang salah, bahkan kekerasan dalam rumah tangga,” ungkap dr. Bina.
Ketidaksiapan ekonomi juga menambah daftar panjang persoalan. Rumah tangga yang dibangun secara terburu-buru tanpa fondasi kuat berisiko besar mengalami konflik dan kemiskinan.
Edukasi Kespro: Tembok Pertahanan Terakhir
Pernikahan anak bukan hanya persoalan keluarga, tapi juga masalah sosial dan pembangunan bangsa. Karena itu, edukasi kespro harus menjadi tembok pertahanan utama untuk mencegah lahirnya generasi lemah secara fisik, psikis, dan ekonomi.
BKKBN Jateng berharap program edukasi ini bisa menciptakan kesadaran baru di kalangan remaja: bahwa masa depan bukan hanya tentang menikah cepat, tapi tentang membangun hidup yang sehat, mandiri, dan sejahtera.