JAKARTA – TNI AU tengah mempertimbangkan langkah strategis untuk memperkuat armada tempurnya dengan kemungkinan membeli pesawat jet tempur J-10C buatan China. Hal ini diungkapkan Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, yang menegaskan bahwa keputusan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) tidak diambil secara sembarangan.
“Jadi untuk penentuan perangkat utama sistem senjata (alutsista) juga tidak hanya, ‘ya saya beli’,” kata Tonny saat ditemui di Mabes AU, Cilangkap, Jakarta Timur.
Ia menjelaskan bahwa proses pengadaan melibatkan tahapan ketat melalui Dewan Penentu Alutsista (Wantuwanda), dengan mempertimbangkan aspek teknis, kebutuhan pertahanan, hingga dinamika hubungan politik antarnegara.
Jet Tempur J-10C Jadi Sorotan
Jet tempur J-10C buatan China mencuri perhatian dunia setelah digunakan Angkatan Udara Pakistan untuk menembak jatuh lima pesawat tempur India, termasuk tiga unit Rafale buatan Prancis, dalam sebuah insiden yang dilaporkan Anadolu pada 7 Mei 2025. Keberhasilan ini membuat J-10C dianggap sebagai opsi menarik untuk memperkuat pertahanan udara Indonesia.
Sebagai negara non-blok, Indonesia memiliki keleluasaan untuk memilih alutsista dari berbagai negara tanpa terikat aliansi tertentu. “Indonesia sendiri, kata KSAU, merupakan negara non-blok yang tidak terlibat konflik dengan negara manapun. Kondisi tersebut mengakibatkan Indonesia, dalam hal ini TNI AU, mempunyai keleluasaan dalam membeli alutsista,” ungkap Tonny.
Pertimbangan Matang Sebelum Membeli
Marsekal Tonny menegaskan bahwa keputusan akhir pembelian jet tempur berada di tangan Kementerian Pertahanan (Kemhan). “Jadi apa yang menjadi alutsista yang diberikan kepada Angkatan Udara, kami sebetulnya menunggu dari kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan,” jelasnya.
Selain J-10C, TNI AU juga tengah memperkuat armadanya dengan 42 unit Rafale dari Prancis, yang kontrak pembeliannya telah berjalan sejak 2024. Langkah ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk memodernisasi alutsista demi menjaga kedaulatan wilayah udara.
Modernisasi Alutsista
Pengadaan jet tempur baru merupakan bagian dari upaya TNI AU untuk memperbarui armada tempur yang sudah menua. Sebelumnya, Indonesia telah mengoperasikan berbagai jet tempur seperti F-16 Fighting Falcon, Sukhoi Su-27, dan Su-30. Rencana pembelian J-10C ini juga mencerminkan strategi Indonesia untuk menjaga keseimbangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik, yang semakin dinamis.
Menurut pengamat militer, langkah ini bisa menjadi sinyal bahwa Indonesia ingin diversifikasi sumber alutsista, sekaligus memperkuat posisi tawar dalam diplomasi pertahanan. Dengan teknologi canggih yang ditawarkan J-10C, TNI AU berpotensi meningkatkan kemampuan tempur udaranya secara signifikan.
Meski wacana pembelian J-10C sedang ramai diperbincangkan, Tonny menegaskan bahwa semua opsi masih dalam tahap evaluasi. Publik pun menantikan keputusan resmi dari Kemhan, yang akan menentukan arah modernisasi TNI AU ke depan.
Dengan potensi masuknya jet tempur China ini, Indonesia tampaknya siap memperkuat pertahanan udaranya di tengah persaingan teknologi militer global.