JAKARTA – Final Liga Champions 2025 menjadi panggung monumental bukan hanya bagi Paris Saint-Germain (PSG).
Tapi juga bagi pelatih mereka, Luis Enrique, yang kini di ambang menyamai torehan legendaris Pep Guardiola.
Bila PSG mampu menumbangkan Inter Milan pada duel puncak di Allianz Arena, Minggu (1/6/2025) pukul 02.00 WIB, maka Enrique akan mengukir rekor prestisius: dua kali menjuarai treble winners sepanjang karier kepelatihannya.
Luis Enrique pernah mencetak treble saat membesut Barcelona musim 2014/2015.
Kini, bersama PSG, ia telah menggenggam dua gelar domestik—Ligue 1 dan Coupe de France—dan hanya tinggal selangkah lagi untuk melengkapi mahkota treble Eropa jika mampu membawa Les Parisiens menaklukkan Inter Milan.
Sementara itu, Pep Guardiola hingga saat ini tercatat sebagai satu-satunya pelatih yang berhasil menggondol dua gelar treble, yakni saat menukangi Barcelona musim 2008/2009 dan Manchester City musim 2022/2023.
Jika PSG menjuarai Liga Champions musim ini, maka Enrique akan sejajar dengan Guardiola dalam catatan emas sejarah sepak bola Eropa.
“Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah sebuah pertandingan yang Istimewa. Ini akan menciptakan sejarah di Paris berarti memenangi trofinya,” ujar Enrique dikutip TNT Sports, Sabtu (31/5/2025).
Laga final ini menjadi peluang emas PSG untuk menuliskan sejarah klub sebagai juara Liga Champions untuk pertama kalinya.
Sejak investasi besar-besaran dari Qatar Sports Investments, klub asal ibu kota Prancis itu selalu berambisi menjadi raja Eropa.
“Ini adalah hari yang hebat karena kami punya kemungkinan untuk berlatih dengan tim untuk pertandingan terakhir musim ini.”
“Kami bermain di final Liga Champions, semua orang menyaksikan pertandingan itu.”
“Ini adalah momen yang menyenangkan untuk kami. Kami akan berusaha merebut trofinya,” kata Luis Enrique menambahkan.
PSG sejatinya sudah pernah mencapai final Liga Champions pada 2020, namun saat itu mereka takluk dari Bayern Munchen.
Kini, di tangan Luis Enrique, ambisi besar tersebut kembali menyala. Di sisi lain, Inter Milan juga datang dengan motivasi tinggi untuk menambah koleksi trofi elite Eropa mereka.
Pertarungan dua raksasa ini tidak hanya soal perebutan gelar juara, tapi juga soal warisan sejarah.
PSG ingin menanggalkan label klub yang gagal di Eropa, sementara Enrique membidik status pelatih elite dengan rekor dua treble bersama dua klub berbeda.***