GAZA, PALESTINA – Sebanyak 31 warga Palestina tewas dan puluhan lainnya luka-luka setelah pasukan Israel melepaskan tembakan di dekat pusat distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza selatan, Rabu (11/6). Insiden ini terjadi saat ribuan warga berkumpul untuk mendapatkan bahan pangan, memperparah krisis kemanusiaan yang tengah melanda wilayah tersebut.
Kekacauan di Tengah Harapan
Ribuan warga Gaza memadati lokasi distribusi bantuan yang dikelola Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), organisasi yang didukung Amerika Serikat dan Israel. Mereka datang sejak dini hari untuk memperoleh makanan dan kebutuhan pokok di tengah kelangkaan yang semakin parah.
Namun, situasi berubah mencekam ketika tembakan dan ledakan terdengar di sekitar area tersebut. “Saya pergi ke sana pukul 02.00 pagi dengan harapan mendapatkan makanan. Dalam perjalanan ke sana, saya melihat orang-orang kembali dengan tangan hampa. Mereka mengatakan paket bantuan habis dalam lima menit, ini gila dan tidak cukup,” ujar Mohammad Abu Amr (40), ayah dua anak, kepada Reuters melalui aplikasi chat.
Ia menambahkan, “Puluhan ribu orang datang dari wilayah tengah dan utara, beberapa dari mereka berjalan kaki sejauh 20 kilometer, hanya untuk pulang dengan kekecewaan.”
Kronologi Penembakan
Menurut Badan Pertahanan Sipil Gaza, tembakan berasal dari arah pasukan Israel yang berjaga di dekat lokasi distribusi. Saksi mata menyebutkan bahwa massa sudah berkumpul sejak pagi dan situasi mulai ricuh ketika terdengar rentetan tembakan dan ledakan yang memicu kepanikan.
Militer Israel menyatakan bahwa tembakan dilepaskan sebagai “peringatan” kepada kelompok warga yang dianggap mendekat secara “mengancam”. Namun, klaim tersebut menuai kritik luas karena tidak menjelaskan jumlah korban jiwa yang tinggi.
Krisis Bantuan yang Berulang
Ini bukan pertama kalinya tragedi terjadi di pusat bantuan. Serangan serupa pada 1 Juni menewaskan 31 orang, disusul insiden 3 Juni yang merenggut 27 nyawa. Data dari Kementerian Kesehatan Palestina menunjukkan lebih dari 100 warga telah tewas dalam upaya mendapatkan bantuan dalam beberapa pekan terakhir.
Distribusi bantuan di Gaza sering kali berlangsung dalam kondisi kacau. Banyak warga harus berjalan puluhan kilometer bahkan sebelum fajar untuk mengantre. “Kami berjalan sejauh 20 kilometer hanya untuk mendengar bahwa bantuan sudah habis,” keluh seorang warga.
Kritik terhadap sistem distribusi terus bermunculan, menyebut metode yang digunakan tidak memadai dan kerap memicu kerusuhan.
Reaksi Internasional
Insiden ini memicu kecaman dari berbagai organisasi kemanusiaan internasional. Mereka menyerukan penyelidikan independen serta mendesak perluasan akses bantuan yang aman dan terjamin ke wilayah Gaza.
Sejak konflik meletus pada Oktober 2023, ribuan warga Palestina dilaporkan tewas. Mahkamah Internasional pada Juli 2024 telah menyatakan pendudukan Israel atas wilayah Palestina sebagai ilegal, namun kondisi di lapangan tetap memburuk.
Tragedi ini kembali memperkuat urgensi penyelesaian konflik secara menyeluruh dan penyediaan jalur bantuan yang aman. Sementara dunia menyuarakan keprihatinan, warga Gaza terus hidup dalam ketidakpastian, berjuang bertahan di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.