JAKARTA – Ketegangan mewarnai akhir laga antara Paris Saint-Germain dan Chelsea, ketika pelatih PSG, Luis Enrique, terlibat langsung dalam keributan dengan penyerang muda Chelsea, Joao Pedro usai laga final Piala Dunia Antarklub 2025.
Dalam tayangan DAZN yang merekam momen tersebut, Luis Enrique tampak frustrasi dan mengakui kesalahannya secara terbuka pada staf pelatihnya.
Dalam gerakan bibir yang terbaca jelas kamera, ia mengatakan, “Saya bodoh. Dia berdiri begitu saja, mendorong saya, saya menyentuhnya, dan dia terjatuh.”
Pernyataan itu muncul setelah Luis Enrique kehilangan kendali emosinya dan terekam sempat menyentuh wajah Joao Pedro.
Aksi itu dianggap tak patut, mengingat ia adalah figur sentral klub di area teknis.
Insiden ini bermula ketika Gianluigi Donnarumma bersitegang dengan Joao Pedro, yang memicu reaksi dari beberapa pemain dan staf PSG.
Achraf Hakimi terlihat memberi gestur menyindir, dan ketika suasana memanas, Luis Enrique melangkah ke tengah keributan.
Ia mencoba menengahi, namun akhirnya malah terlihat menampar wajah Joao Pedro.
Meski laga telah berakhir, dampak dari insiden ini belum mereda. Banyak pihak kini menunggu keputusan resmi dari FIFA mengenai kemungkinan sanksi yang akan dijatuhkan pada Luis Enrique.
Mengingat reputasi internasional pelatih asal Spanyol tersebut, situasi ini dapat berdampak pada citra profesionalnya dan klub.
Pembelaan dari Al Khelaifi: Pelatih Harus Dihormati
Di tengah gelombang kritik, Presiden PSG Nasser Al Khelaifi tampil membela pelatihnya.
Saat ditemui awak media di zona campuran, ia menegaskan bahwa Luis Enrique bukan sosok yang mudah terpancing emosi dan dikenal sangat disiplin.
Menurutnya, pelatih hanya berniat melerai kekacauan.
“Kami memiliki pelatih yang paling disiplin dan penuh hormat di dunia. Dia hanya berusaha memisahkan, tetapi didorong. Harus ada rasa hormat terhadap pelatih juga,” ujarnya seperti dilaporkan Marca.
Namun, sejumlah pengamat tetap menilai bahwa sosok pelatih sekelas Enrique seharusnya mampu mengendalikan situasi tanpa menyentuh pemain lawan secara fisik.
Dalam dunia sepak bola profesional, segala bentuk agresi—termasuk yang muncul dalam situasi panas pascalaga—bisa berujung sanksi berat.
Kini perhatian tertuju pada federasi sepak bola internasional. Akankah FIFA bersikap tegas terhadap insiden ini atau membiarkan masalah ini reda dengan sendirinya, seiring dengan waktu?***