Kabar gembira bagi penggemar Formula 1 yang sempat skeptis dengan regulasi mesin 2026. Seluruh tim F1 akhirnya mencapai kata sepakat secara bulat untuk memoles aturan tersebut agar balapan tetap seru dan, yang terpenting, jauh lebih aman.
Kesepakatan ini lahir dari pertemuan krusial antara FIA, bos-bos tim, produsen mesin, dan manajemen F1 pada Senin, 20 April lalu. Perubahan ini direncanakan langsung berlaku pada GP Miami, 3 Mei mendatang, setelah melewati pemungutan suara elektronik oleh Dewan Olahraga Motor Dunia (WMSC).
Langkah drastis ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran para pembalap, terutama setelah insiden mengerikan 50G yang dialami Ollie Bearman di GP Jepang akibat perbedaan kecepatan mobil yang terlalu ekstrem di lintasan.
1. Kualifikasi: Lebih Banyak “Gas Pol”, Kurang “Ngecas”
Ada tiga poin utama untuk sesi kualifikasi agar pembalap bisa tampil maksimal tanpa terlalu pusing memikirkan pengisian baterai:
-
Efisiensi Pengisian Baterai: Laju pengisian ulang dikurangi dari 8MJ ke 7MJ. Tujuannya? Agar pembalap tidak perlu terlalu banyak melakukan harvesting (menghemat energi) dan bisa lebih banyak memacu mobil dalam kondisi flat-out.
-
Ledakan Tenaga Ekstrem: Tenaga puncak baterai (super clip) melonjak dari 250kW menjadi 350kW. Ini akan mengurangi beban kerja pembalap dalam manajemen energi.
-
Fleksibilitas Sirkuit: Jumlah balapan yang boleh menggunakan batas energi lebih rendah ditambah dari 8 menjadi 12 seri agar sesuai dengan karakter sirkuit yang berbeda-beda.
2. Balapan: Duel yang Lebih Adil
Untuk sesi Main Race, tenaga maksimal dari sistem Boost dibatasi pada 150kW. Langkah ini sengaja diambil untuk mencegah perbedaan performa yang terlalu mencolok antar mobil saat berduel, yang seringkali membahayakan saat mobil di depan melambat tiba-tiba untuk mengisi daya.
Selain itu, pengerahan tenaga MGU-K akan tetap di angka 350kW saat keluar tikungan hingga titik pengereman (zona menyalip), namun akan dibatasi di bagian sirkuit lainnya demi efisiensi.
3. Start yang Lebih Pintar (Teknologi Anti-Tabrakan)
Salah satu momen paling menegangkan dalam F1 adalah saat start. FIA memperkenalkan sistem “Low Power Start Detection”. Jika sistem mendeteksi ada mobil yang akselerasinya tidak normal (terlalu lambat) setelah melepas kopling, MGU-K akan otomatis menendang untuk memberikan dorongan instan. Hal ini dilakukan untuk mencegah mobil tersebut ditabrak dari belakang oleh pembalap lain yang melaju kencang.
Mobil yang mengalami masalah ini juga akan memberikan peringatan visual berupa lampu kilat di bagian belakang dan samping agar pembalap lain waspada.
4. Perang Melawan Hujan dan Kabut
Belajar dari keluhan para pembalap soal jarak pandang, F1 juga memperbarui protokol balapan basah:
-
Ban Lebih Cengkeram: Suhu selimut ban untuk ban Intermediate ditingkatkan agar ban langsung “gigit” sejak keluar pit.
-
Kontrol Torsi: Tenaga listrik (ERS) akan dikurangi saat hujan untuk mencegah mobil melintir akibat torsi yang terlalu besar di lintasan licin.
-
Lampu Belakang Baru: Desain lampu belakang disederhanakan agar lebih silau dan jelas terlihat oleh pembalap di belakang dalam kondisi semprotan air (spray) yang pekat.