Menghadapi badai tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bergerak cepat. Usai menggelar pertemuan tertutup dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Selasa malam (5/5/2026), Perry membongkar tujuh strategi tempur yang akan dikerahkan demi memukul balik keperkasaan dolar AS.
Salah satu langkah paling drastis adalah pengetatan “keran” dolar di pasar domestik. Perry berencana memangkas jatah pembelian dolar tanpa agunan (underlying) menjadi hanya US$25.000 per orang per bulan. Angka ini turun tajam dari sebelumnya US$100.000, lalu US$50.000.
1. Mempersempit Gerak Spekulan Dolar
“Kami akan perkuat pengawasan di dalam negeri. Pembelian di atas US$25.000 wajib menyertakan alasan atau underlying yang jelas,” tegas Perry. Langkah ini diambil untuk memastikan dolar tidak dijadikan alat spekulasi yang merugikan mata uang garuda.
2. Diversifikasi: Menggandeng Yuan Cina
BI kini serius melakukan diversifikasi dari ketergantungan dolar. Perry mengungkapkan bahwa pasar domestik untuk pertukaran Rupiah-Yuan (CNY) telah berkembang pesat. Dengan mengoptimalkan penggunaan mata uang lokal (local currency settlement) dengan Cina, ketergantungan terhadap dolar bisa dikurangi secara signifikan.
3. Intervensi Tanpa Henti di Pusat Keuangan Dunia
Perry memastikan BI tidak akan tinggal diam melihat rupiah digempur di pasar global. Intervensi tunai dan Non-Deliverable Forward (NDF) akan dilakukan secara simultan di pusat-pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, London, hingga New York.
“Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk menstabilkan rupiah, baik dari dalam maupun luar negeri,” ujarnya optimis.
4. Mengamankan Aliran Modal (Inflow)
BI berkoordinasi erat dengan Menteri Keuangan untuk memastikan aliran modal asing tetap masuk (inflow). Melalui instrumen SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia), BI berupaya menutup celah keluarnya dana (outflow) dari pasar saham dan SBN.
5. Aksi “Buyback” SBN di Pasar Sekunder
Hingga saat ini, BI telah memborong SBN di pasar sekunder senilai Rp123,1 triliun sepanjang tahun berjalan. Langkah ini akan terus dilakukan berkoordinasi dengan Kemenkeu untuk menjaga stabilitas fiskal dan moneter.
6. Menjaga Likuiditas Perbankan
Perry memastikan likuiditas di pasar tetap melimpah namun terkendali. Pertumbuhan uang primer yang mencapai 14,1% (double digit) menjadi indikator bahwa sistem perbankan nasional masih memiliki napas yang panjang.
7. Pengawasan Ketat: Kirim Intel ke Bank dan Korporasi
Langkah pamungkas yang diambil adalah peningkatan pengawasan. BI bersama OJK akan mengirim tim pengawas langsung ke bank-bank dan korporasi yang terdeteksi melakukan aktivitas pembelian dolar dalam volume tinggi secara mencurigakan.
“Kami pastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. Koordinasi dengan Ketua OJK Friderica Widyasari terus diperketat untuk memantau pergerakan ini,” pungkas Perry.