SHENZHEN, CHINA – Revolusi industri memasuki babak baru dengan kehadiran robot humanoid canggih dari UBTech Robotics, perusahaan teknologi asal Shenzhen, China.
Bernama Walker S2, robot ini menjadi yang pertama di dunia yang mampu mengganti baterainya secara otonom dalam waktu hanya tiga menit, memungkinkannya bekerja non-stop 24 jam sehari, tujuh hari seminggu.
Inovasi ini diyakini bakal mengubah lanskap industri manufaktur global.
Bayangkan sebuah lini produksi yang tak pernah berhenti. Pekerja di dalamnya tak kenal lelah, tak perlu istirahat, dan tak pernah mengeluh. Saat daya mereka menipis, mereka dengan cerdas menuju stasiun pengisian, mengganti baterai sendiri, dan kembali ke tugas dalam hitungan menit.
“Ini bukan adegan dari film fiksi ilmiah, melainkan kenyataan baru yang baru saja dipertontonkan oleh UBTech Robotics,” tulis laporan resmi perusahaan tersebut.
Walker S2 dirancang untuk menjalankan tugas-tugas kompleks di lingkungan industri, mulai dari memilah material, mengangkut barang, hingga merakit komponen otomotif.
Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan otonom untuk mengganti baterai, menghilangkan kebutuhan intervensi manusia.
Dengan fitur ini, robot humanoid ini mampu menjalankan operasi tanpa henti, meningkatkan efisiensi dan produktivitas di lantai pabrik.
Menurut Pang Jianxin, Wakil Presiden UBTech, sektor manufaktur menjadi bidang ideal untuk penerapan robot humanoid karena sifatnya yang terstandarisasi.
“Sifat terstandardisasi dari manufaktur industri menjadikannya sebagai area aplikasi awal yang ideal untuk robot humanoid,” ujar Pang dalam Konferensi Inovasi 2024 di Shenzhen.
Ia menambahkan bahwa teknologi ini juga berpotensi merambah sektor layanan komersial dan pendampingan keluarga di masa depan.
Keberhasilan UBTech tak lepas dari kolaborasinya dengan raksasa otomotif China seperti NIO dan FAW-Volkswagen. Di pabrik pintar Zeekr 5G milik Geely di Ningbo, robot Walker S1, pendahulu Walker S2, telah menunjukkan kemampuan bekerja dalam tim, menyerupai kolaborasi manusia.
Robot-robot ini memilah material, mengangkut boks, dan merakit komponen mobil dengan presisi tinggi, berkat sistem “jaringan otak” UBTech yang memungkinkan sinkronisasi tim secara real-time.
Namun, kemajuan ini juga memicu kekhawatiran. Sebagian kalangan menilai kehadiran robot seperti Walker S2 bisa mengancam lapangan kerja manusia, terutama di sektor pekerjaan rutin.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa robot lebih cocok sebagai mitra kolaboratif, bukan pengganti total tenaga kerja manusia.
“Robot dapat membantu manusia dalam tugas berulang dan berbahaya, memungkinkan pekerja manusia fokus pada pekerjaan yang membutuhkan kreativitas dan pengambilan keputusan,” kata Xiong Rong, profesor dari Universitas Zhejiang.
China sendiri menargetkan sistem inovasi robot humanoid yang matang pada 2025, dengan rantai pasok yang andal pada 2027, sesuai pedoman Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China.
Dengan terobosan seperti Walker S2, negara ini semakin kokoh di garis depan revolusi robotika global.