JAKARTA – Iran meluncurkan kampanye perekrutan massal bertajuk “Janfada” atau “Mengorbankan Nyawa” untuk mengajak sukarelawan membela negera di tengah ancaman invasi darat Amerika Serikat.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan mengundang warga berusia 12 tahun ke atas untuk bertugas di pos pemeriksaan dan fasilitas militer.
Dilansir dari Turkiyetoday, Jumat (3/4/2026), pesan teks massal dikirim ke pelanggan seluler di seluruh Iran, menyerukan partisipasi dalam kampanye nasional menghadapi “ancaman musuh Amerika-Zionis terhadap pantai, pulau, dan perbatasan Iran.” IRGC menawarkan berbagai peran, mulai dari patroli, pos keamanan, perawatan korban luka, memasak, hingga dukungan finansial.
Poster rekrutmen berjudul “Prajurit Pembela Tanah Air Iran” menampilkan sosok pria berseragam Basij, seorang perempuan berkerudung hitam, serta dua anak.
Human Rights Watch (HRW) mengecam keras kampanye tersebut. “Anak-anak di fasilitas militer akan menghadapi risiko serius kematian dan cedera,” tegas HRW, seraya menuntut Iran menghentikan perekrutan anak di bawah 18 tahun. HRW menambahkan, “Iran terikat oleh hukum internasional kebiasaan, yang menyatakan bahwa perekrutan anak-anak di bawah usia 15 tahun adalah kejahatan perang.”
Portal daring kampanye mengklaim lebih dari 5 juta orang telah mendaftar, meski hanya diminta mengisi nama, nomor telepon, dan provinsi. Tasnim News melaporkan Teheran telah memobilisasi pasukan tempur hingga 1 juta orang, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi.
Warga Iran memberikan respons beragam. Hossein, seorang mekanik di Teheran, menyatakan, “Jika terjadi perang darat, saya akan ikut bertempur. Saya lebih memilih mati membela tanah air daripada mati di tempat tidur.” Sementara Kamran, pengusaha 35 tahun, menolak bergabung di bawah kampanye udara, mengingat penindakan brutal terhadap demonstran Januari lalu. Farshid, arsitek 38 tahun, menolak mentah-mentah, menyebut dirinya tidak ingin “diperlakukan seperti bidak catur.”
Di lapangan, pasukan keamanan mendirikan pos pemeriksaan di Isfahan dan kota sekitarnya. Fasilitas IRGC, Basij, tentara, dan polisi menjadi target serangan AS-Israel. Pos keamanan di Teheran juga diserang.
AS sendiri menambah ribuan pasukan, termasuk marinir dan pasukan terjun payung, seiring Presiden Donald Trump mempertimbangkan operasi darat.