JAKARTA – Aryna Sabalenka menghadapi evaluasi besar setelah kehilangan gelar US Open 2026 sekaligus posisi nomor satu dunia.
Elena Rybakina mengalahkan Sabalenka 6-4, 5-7, 6-2 pada final US Open dan merebut gelar Grand Slam ketiganya.
Kemenangan itu sekaligus menghentikan ambisi Sabalenka mencatat hattrick gelar US Open setelah menjadi juara pada 2024 dan 2025.
Sabalenka juga harus menyerahkan takhta peringkat WTA kepada Rybakina setelah menguasai posisi teratas selama 99 pekan beruntun.
Dalam klasemen terbaru, Rybakina menjadi petenis putri peringkat satu dunia untuk pertama kalinya dalam kariernya.
Kekalahan tersebut semakin menjadi sorotan karena Sabalenka menunjukkan luapan emosi setelah pertandingan berakhir.
Petenis Belarus itu terlihat merusak raket dan melontarkan umpatan kepada operator kamera setelah gagal mempertahankan trofi US Open.
Momen tersebut kemudian memunculkan pembahasan mengenai cara Sabalenka mengelola tekanan ketika menghadapi pertandingan besar.
Mantan petenis nomor satu dunia ganda putri, Rennae Stubbs, menilai Sabalenka perlu mengevaluasi aspek mental dalam permainannya.
Stubbs bahkan membuka kemungkinan perubahan dalam tim kepelatihan, meski ia tidak secara langsung menyarankan Anton Dubrov untuk meninggalkan posisi tersebut.
Dubrov telah mendampingi Sabalenka selama bertahun-tahun dan menjadi bagian penting dari perjalanan menuju empat gelar Grand Slam.
Dalam pandangan Stubbs, kehadiran sosok baru dapat membantu memberikan perspektif berbeda ketika Sabalenka menghadapi tekanan pertandingan.
Ia juga menilai pelatih harus berani memberikan batas tegas ketika respons emosional Sabalenka mulai mengganggu performanya.
“Menurut saya, dia mungkin akan memenangkan Australian Open,” kata Stubbs dalam podcastnya seperti dilansir Tennis365, Kamis.
Stubbs juga menyebut Sabalenka perlu melihat kembali aspek yang masih dapat diperbaiki setelah sejumlah kekalahan penting.
“Dia kehilangan banyak pertandingan karena mentalnya,” ujar Stubbs mengenai persoalan yang dinilainya perlu mendapat perhatian.
Menurut Stubbs, perubahan pelatih bukan satu-satunya jalan karena seluruh anggota tim saat ini sudah memahami karakter Sabalenka.
Namun, ia menilai seorang pelatih baru dapat memberikan teguran lebih tegas ketika perilaku emosional mulai melewati batas.
“Ini perilaku yang tidak dapat diterima,” demikian inti pesan yang menurut Stubbs perlu disampaikan kepada Sabalenka.
Stubbs juga menilai Dubrov memiliki rekam jejak kuat dan telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan Sabalenka.
“Anton adalah sosok hebat dan orang yang sangat baik,” kata Stubbs sambil mengakui besarnya kontribusi Dubrov.
Sementara itu, mantan petenis nomor sembilan dunia Andrea Petkovic juga melihat kemungkinan menambah anggota baru dalam tim Sabalenka.
Petkovic tetap menilai Dubrov sebaiknya dipertahankan karena perannya dalam perjalanan panjang Sabalenka dinilai sangat penting.
“Saya memang berpikir dia mungkin perlu menambah beberapa orang, tetapi saya tidak berpikir dia harus menyingkirkan Anton,” ujar Petkovic.
Sabalenka sendiri memasuki fase penting setelah musim Grand Slam 2026 berakhir tanpa gelar mayor.
Ia sebelumnya menjadi runner-up Australian Open setelah kalah dari Rybakina, sebelum kembali tumbang dari lawan yang sama di New York.
Rybakina bahkan mengalahkan Sabalenka pada dua final hard court Grand Slam musim ini, yakni Australian Open dan US Open.
Catatan tersebut membuat persaingan kedua petenis semakin menarik menjelang musim 2027 dan perebutan kembali posisi teratas WTA.
Sabalenka masih memiliki modal besar karena sepanjang 2026 tetap mampu meraih gelar Brisbane, Indian Wells, dan Miami.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana Sabalenka mengubah pengalaman pahit di New York menjadi persiapan menuju Australian Open berikutnya.
Stubbs tetap memberikan prediksi positif dengan menyebut Sabalenka berpeluang kembali menjadi juara di Melbourne.
Namun, prediksi tersebut bukan jaminan hasil karena persaingan papan atas WTA akan kembali mempertemukan Sabalenka dengan sejumlah rival utama.
Perubahan komposisi tim, pengelolaan emosi, dan konsistensi pada laga besar kini menjadi bagian dari evaluasi Sabalenka menuju musim berikutnya.***