KAMCHATKA, RUSIA – Gelombang tsunami setinggi 3–4 meter menghantam kota pelabuhan Severo-Kurilsk di Kepulauan Kuril, Rusia, pada Rabu (30/7) pagi, menyusul gempa bumi berkekuatan 8,8 magnitudo di lepas pantai Semenanjung Kamchatka. Sekitar 2.500 warga kota kecil ini terpaksa mengungsi ke dataran tinggi untuk menyelamatkan diri dari ancaman gelombang susulan.
Gubernur Sakhalin, Valery Limarenko, mengonfirmasi evakuasi massal dilakukan segera setelah sirene tsunami menggema di seluruh kota.
“Residents remain safe on high ground until the tsunami threat is completely lifted,” ujar Limarenko dalam pernyataan resminya di Telegram.
Ia menambahkan bahwa layanan darurat beroperasi dalam mode siaga tinggi untuk memastikan keselamatan warga dan memulihkan kehidupan normal di wilayah tersebut.
Tsunami dipicu oleh gempa kuat yang berpusat 119 kilometer timur-tenggara Petropavlovsk-Kamchatsky, dengan kedalaman dangkal 19,3 kilometer.
Guncangan ini, yang disebut sebagai yang terkuat dalam beberapa dekade oleh Gubernur Kamchatka Vladimir Solodov, menyebabkan kepanikan di kalangan warga.
“Today’s earthquake was serious and the strongest in decades of tremors,” kata Solodov dalam video yang diunggah di Telegram.
Warga Severo-Kurilsk, yang mayoritas bekerja di industri perikanan, berlarian menuju bukit-bukit terdekat setelah gempa mengguncang pada pukul 08.25 waktu setempat.
Video yang beredar di media lokal menunjukkan warga berjalan cepat menuju dataran tinggi sambil sirene peringatan terus berbunyi.
Beberapa warga tampak membawa barang-barang penting, sementara yang lain bergegas tanpa membawa apa pun demi menyelamatkan diri.
Meski tidak ada laporan korban jiwa, Menteri Kesehatan Regional Oleg Melnikov melaporkan beberapa warga mencari perawatan medis akibat luka ringan.
“Unfortunately, there are some people injured during the seismic event. Some were hurt while running outside, and one patient jumped out of a window. A woman was also injured inside the new airport terminal,” ungkap Melnikov kepada kantor berita TASS.
Ia menegaskan semua pasien dalam kondisi stabil tanpa luka serius. Gelombang tsunami juga menyebabkan banjir di pelabuhan Severo-Kurilsk dan merendam fasilitas pengolahan ikan Alaid. Seluruh karyawan pabrik dievakuasi dengan cepat, dan belum ada laporan kerusakan signifikan di wilayah tersebut.
Namun, ancaman gelombang susulan membuat warga tetap waspada, dengan otoritas setempat terus memantau situasi di sepanjang pantai Kepulauan Kuril.
Sejarah mencatat Severo-Kurilsk pernah porak-poranda akibat tsunami dahsyat pada 1952, yang menewaskan 2.336 dari 6.000 penduduknya. Pengalaman kelam ini membuat warga dan otoritas setempat bereaksi cepat kali ini.
“Kami tidak ingin mengulang tragedi masa lalu. Evakuasi adalah prioritas utama,” tegas Elena Semenova, kepala stasiun seismik Yuzhno-Sakhalinsk, kepada RIA Novosti.
Peringatan tsunami juga dikeluarkan untuk wilayah lain, termasuk Jepang, Alaska, dan Hawaii, dengan gelombang hingga 3 meter diperkirakan mengancam pantai-pantai tersebut.
Di Jepang, warga Hokkaido dievakuasi ke bukit-bukit, sementara di Hawaii, sirene peringatan berbunyi di seluruh kepulauan. Otoritas global terus memantau dampak gempa dan tsunami ini, yang disebut sebagai salah satu peristiwa seismik terkuat di wilayah Cincin Api Pasifik dalam beberapa dekade.
