TOKYO, JEPANG – Jet tempur F-2A milik Pasukan Bela Diri Udara Jepang (ASDF) jatuh saat menjalani latihan terbang di Samudra Pasifik. Beruntung, pilot berhasil menyelamatkan diri dengan kursi pelontar sebelum pesawat menghantam lautan, menurut laporan resmi ASDF.
Insiden ini memicu penghentian sementara operasional seluruh armada jet F-2 Jepang, kecuali untuk misi darurat, sembari penyelidikan penyebab kecelakaan dilakukan.
Menurut pernyataan Angkatan Udara Jepang, seperti dilansir Kyodo News dan Anadolu Agency pada Jumat, 8 Agustus 2025, jet tempur F-2A tersebut jatuh di lepas pantai timur Jepang, tepatnya di perairan Prefektur Ibaraki.
Pilot, yang berusia 30-an tahun, melaporkan gangguan teknis saat terbang bersama jet F-2A lainnya, sekitar 150 kilometer timur laut Pangkalan Udara Hyakuri.
“Sejauh ini tidak ada kerusakan pada kapal di lokasi kecelakaan yang dilaporkan,” ujar pihak ASDF, memastikan tidak ada dampak langsung pada lingkungan sekitar.
Kecelakaan ini menambah daftar insiden pesawat militer Jepang dalam beberapa tahun terakhir. Pada Mei 2025, sebuah jet latih T-4 jatuh di Provinsi Aichi, menewaskan dua awaknya. Kepala Staf ASDF, Takehiro Morita, menyampaikan permintaan maaf dalam konferensi pers di Tokyo.
“Kami akan mengusut penyebab insiden itu secara menyeluruh,” tegasnya.
Jet tempur F-2A, hasil kolaborasi Mitsubishi Heavy Industries Jepang dan Lockheed Martin AS, dikenal sebagai tulang punggung pertahanan udara Jepang.
Pesawat multiperan ini dirancang untuk misi antikapal, serangan darat, dan pertempuran udara-ke-udara, dengan teknologi komposit serat karbon canggih.
Namun, kecelakaan ini menimbulkan pertanyaan tentang keandalan armada F-2, terutama setelah insiden serupa pada 2019 di Laut Jepang, di mana dua awak berhasil diselamatkan.
Sebagai respons, ASDF mengumumkan penghentian operasional 90 unit jet F-2, kecuali untuk keadaan darurat seperti pelanggaran wilayah udara.
Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan dan mencegah risiko lebih lanjut sembari investigasi berlangsung.
Puing-puing pesawat telah ditemukan di lokasi kejadian, dan tim penyelamat terus bekerja untuk mengumpulkan bukti guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional di Indo-Pasifik, dengan Jepang memperkuat pertahanan udaranya menyusul aktivitas militer China dan Rusia.
Pada Juni 2025, jet tempur China dilaporkan melakukan manuver berbahaya mendekati pesawat patroli Jepang, memicu protes keras dari Tokyo.