JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana ambisius untuk membuka Taman Margasatwa Ragunan pada malam hari. Kebijakan ini bertujuan menggenjot sektor pariwisata Jakarta sekaligus memberikan pengalaman baru bagi warga dan wisatawan. Pengumuman tersebut disampaikan usai rapat paripurna di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (13/8).
“Ragunan itu kan luas, 140 hektare. Kalau malam dibuka, orang bisa lihat satwa yang aktif malam, seperti burung hantu dan kelelawar. Itu menarik,” ujar Pramono, menegaskan potensi wisata malam di kebun binatang terbesar di Jakarta tersebut.
Rencana ini diharapkan dapat menarik lebih banyak pengunjung, terutama wisatawan yang mencari atraksi malam hari di ibu kota.
Pramono menjelaskan, pembukaan Ragunan di malam hari akan menonjolkan satwa nokturnal, seperti burung hantu, kelelawar, dan hewan lain yang aktif saat gelap. Selain itu, aktivitas malam di Ragunan juga akan mencakup kegiatan edukasi dan hiburan, seperti tur malam, pameran interaktif, dan pertunjukan cahaya untuk menarik keluarga dan wisatawan muda.
Namun, Pramono menegaskan bahwa rencana ini masih dalam tahap pengkajian mendalam. “Kami sedang kaji, apalagi menyangkut keamanan dan kenyamanan pengunjung serta kesejahteraan satwa,” katanya.
Studi kelayakan tengah dilakukan untuk memastikan pencahayaan, keamanan, dan dampak terhadap satwa terpenuhi dengan baik. Pemerintah DKI juga berencana melibatkan ahli zoologi dan aktivis lingkungan untuk memastikan keseimbangan antara hiburan dan kesejahteraan hewan.
Dorongan Wisata dan Ekonomi Lokal
Kebijakan ini sejalan dengan visi Pramono untuk menjadikan Jakarta sebagai kota global dalam 20 tahun ke depan, seperti disampaikannya saat membuka Jakarta Fair 2025 di JIExpo. Pembukaan Ragunan di malam hari diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah melalui sektor pariwisata, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru, seperti pemandu tur malam dan petugas keamanan.
Menurut data Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Ragunan menarik lebih dari 5 juta pengunjung setiap tahunnya. Dengan jam operasional malam, jumlah ini diproyeksikan meningkat hingga 20 persen, terutama dari wisatawan domestik dan mancanegara yang mencari pengalaman unik.
Tantangan dan Harapan
Meski mendapat sambutan positif dari sebagian warga, rencana ini juga menuai kekhawatiran. Beberapa aktivis lingkungan mengingatkan pentingnya menjaga ritme biologis satwa agar tidak terganggu oleh aktivitas malam.
“Kesejahteraan hewan harus jadi prioritas. Pencahayaan dan keramaian malam bisa memengaruhi pola hidup satwa,” ujar seorang aktivis dari Jakarta Animal Aid Network.
Pramono menanggapi kekhawatiran ini dengan menjanjikan pendekatan berbasis sains. “Kami tidak akan gegabah. Semua akan dikaji dengan cermat agar satwa tetap nyaman,” tegasnya.
Jika rencana ini terwujud, Ragunan akan menjadi salah satu kebun binatang pertama di Asia Tenggara yang membuka wisata malam secara reguler.
Langkah ini juga diharapkan dapat menempatkan Jakarta sebagai destinasi wisata unggulan, sejalan dengan pengakuan Condé Nast Traveller yang memasukkan Indonesia sebagai salah satu destinasi terbaik 2025.
Meski belum ada jadwal pasti, Pramono optimistis uji coba pembukaan malam Ragunan dapat dimulai pada 2026, dengan tahap awal berfokus pada akhir pekan. Pemerintah DKI juga akan melibatkan masyarakat dalam konsultasi publik untuk memastikan rencana ini mendapat dukungan luas.
Dengan rencana ini, Jakarta tidak hanya menawarkan hiburan malam yang inovatif, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai kota metropolitan yang dinamis dan ramah wisatawan.