DOHA, QATAR – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengungkapkan bahwa lima anggotanya tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh Israel di ibu kota Qatar, Doha. Namun, delegasi negosiasi Hamas yang terlibat dalam perundingan dengan pihak-pihak internasional dipastikan selamat dari insiden tersebut.
Hamas mengecam serangan ini sebagai “kejahatan keji dan agresi terang-terangan”, menegaskan bahwa serangan tersebut ditujukan untuk menggagalkan upaya negosiasi yang sedang berlangsung. “Kami menegaskan bahwa musuh telah gagal dalam upaya untuk membunuh saudara-saudara kami di delegasi negosiasi,” demikian pernyataan Hamas yang dikutip Anadolu, Rabu (10/9/2025).
Identitas Korban Serangan
Hamas mengungkapkan identitas lima anggotanya yang tewas dalam serangan tersebut. Mereka adalah:
- Hammam al-Hayya, putra pemimpin Hamas Khalil al-Hayya
- Jihad Lubad, direktur kantor Jihad
- Tiga ajudan Hamas: Abdullah Abdel Wahid, Moamen Hassouna, dan Ahmed al-Mamlouk
Selain itu, Hamas juga menyampaikan duka cita atas tewasnya seorang personel keamanan Qatar yang turut menjadi korban dalam serangan tersebut.
Tuduhan terhadap Israel dan AS
Dalam pernyataannya, Hamas menuduh Israel dan Amerika Serikat bertanggung jawab atas serangan ini. “Kami menyatakan bahwa pendudukan Israel dan pemerintah Amerika Serikat bertanggung jawab atas kejahatan ini karena dukungan terus-menerus Washington terhadap agresi dan kejahatan pendudukan terhadap rakyat kami,” tegas Hamas.
Hamas menilai serangan tersebut sebagai bentuk agresi terhadap kedaulatan Qatar, yang selama ini memainkan peran penting dalam memediasi upaya untuk menghentikan kekerasan dan mencapai kesepakatan gencatan senjata serta pertukaran tahanan. Mereka juga menambahkan bahwa serangan ini terjadi saat mereka sedang membahas proposal terbaru dari Presiden AS Donald Trump.
Serangan dan Proses Negosiasi
Hamas menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak ingin kesepakatan tercapai dan berupaya menggagalkan proses tersebut. “Sekali lagi membuktikan bahwa pendudukan Zionis merupakan ancaman serius bagi kawasan dan dunia,” ujar Hamas, sambil menuding Netanyahu menjalankan kebijakan yang melibatkan genosida, pembersihan etnis, kelaparan, dan pemindahan paksa terhadap rakyat Palestina.
Komitmen untuk Terus Melawan
Meskipun kehilangan sejumlah anggotanya, Hamas menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan melemahkan tekad mereka. “Kejahatan teroris ini tidak akan mematahkan tekad gerakan dan kepemimpinan kami, ataupun mengalihkan kami dari perjuangan mempertahankan hak-hak nasional kami dan terus melanjutkan jalur perlawanan hingga pendudukan berakhir dan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya terwujud,” ujar Hamas.
Mereka juga kembali menuntut penghentian agresi di Gaza, penarikan penuh pasukan Israel, pertukaran tahanan, distribusi bantuan kemanusiaan, serta rekonstruksi wilayah yang hancur akibat konflik yang terus berlanjut.
Respons Militer Israel
Sementara itu, militer Israel mengonfirmasi bahwa serangan mereka ditujukan kepada pimpinan senior Hamas, namun mereka tidak mengonfirmasi lokasi serangan tersebut di Doha. Pihak Israel juga tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai hasil serangan atau kerugian yang diderita Hamas.
Serangan ini menambah ketegangan yang sudah lama berlangsung di kawasan tersebut, dan semakin memperburuk hubungan antara Hamas, Israel, dan negara-negara yang terlibat dalam mediasi perdamaian.
