DILI – Demonstrasi mahasiswa di Timor Leste terus berlanjut meskipun parlemen negara itu telah membatalkan rencana pembelian mobil dinas mewah untuk anggota dewan. Protes yang digelar sejak Selasa (16/9/2025) ini tetap berlangsung hingga hari ketiga, dengan massa yang kembali berkumpul di sekitar gedung parlemen di Dili, merasa tidak puas dengan keputusan pembatalan yang dianggap terlalu terlambat.
Sebelumnya, parlemen Timor Leste telah menyetujui rencana pembelian Toyota Prado SUV untuk setiap anggota dewan, dengan anggaran sebesar USD 4,2 juta (setara Rp 69 triliun). Rencana pengadaan tersebut menuai protes luas dari warga yang marah, mengingat sekitar 40% penduduk negara ini hidup di bawah garis kemiskinan, menurut laporan Bank Dunia.
Sebagai respons terhadap tekanan publik, parlemen akhirnya membatalkan rencana tersebut, mengadopsi resolusi untuk menghentikan proses pengadaan kendaraan baru dalam anggaran 2025. Meskipun demikian, keputusan ini tidak meredakan kemarahan demonstran yang terus mendesak agar langkah-langkah lebih lanjut diambil terhadap penyalahgunaan anggaran dan hak-hak istimewa yang diberikan kepada pejabat negara.
Protes Berubah Ricuh, Massa Merusak Gedung Pemerintah
Massa demonstran yang mayoritas terdiri dari mahasiswa melanjutkan aksi mereka dengan semakin intensif, bahkan berubah menjadi ricuh. Demonstrasi yang awalnya damai berujung dengan aksi merusak gedung-gedung pemerintah dan membakar ban di jalan. Tindakan tersebut memicu konfrontasi dengan aparat keamanan, yang membalas dengan tembakan gas air mata.
Menurut laporan Reuters, lebih dari 2.000 orang terlibat dalam protes tersebut, sebagian besar berasal dari Universitas Timor Leste (EUTL), dan mereka menyuarakan penolakan terhadap pengeluaran negara untuk membeli mobil dinas bagi 65 anggota parlemen. Para demonstran menuntut agar dana publik digunakan lebih bijaksana, dan tidak dialihkan untuk kepentingan pribadi pejabat negara.
“Rumornya mobil-mobil itu sedang dalam perjalanan,” ujar salah seorang demonstran, Trinito Gaio (42), dikuti dari Reuters, Rabu (17/9/2025), yang mengungkapkan rasa frustrasi atas penggunaan uang pajak untuk pembelian mobil tersebut. “Kami di sini untuk memastikan uang pajak kami tidak disalahgunakan,” tambahnya.
Tuntutan Mahasiswa Meluas
Seiring berjalannya waktu, tuntutan mahasiswa semakin meluas. Mereka kini tidak hanya menuntut pembatalan rencana pembelian mobil dinas, tetapi juga meminta kejelasan mengenai hak pensiun seumur hidup dan hak-hak istimewa lainnya yang diterima oleh anggota parlemen dan pejabat tinggi negara.
Sementara itu, Letjen Domingos Raul “Falur” Rate Laek, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Timor Leste, menyerukan kepada para demonstran agar tidak melakukan aksi kekerasan. “Demonstrasi adalah hal yang biasa, hanya saja harus dilakukan secara damai. Jangan melakukan kekerasan, jangan melakukan kerusuhan, dan jangan lagi membakar rumah,” ujar Laek.
PM Xanana Gusmao di Luar Negeri
Protes ini terjadi saat Perdana Menteri Xanana Gusmao sedang berada di London untuk pertemuan tentang perbatasan darat dan laut, dan dijadwalkan kembali ke Dili pada 22 September. Kehadiran Gusmao sangat dinantikan, mengingat ketegangan politik yang tengah berlangsung dan dampaknya terhadap stabilitas pemerintahan.
Aksi mahasiswa ini mencerminkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap kebijakan pemerintah, serta kekhawatiran akan ketimpangan sosial dan ekonomi yang masih terjadi di Timor Leste. Demonstrasi ini menjadi sorotan internasional, mengingat dampaknya yang bisa memengaruhi citra negara di mata dunia.