Kim Jong Un kembali mengukuhkan dominasi mutlaknya di Korea Utara. Dalam sidang Majelis Rakyat Tertinggi (SPA) yang digelar 22 Maret 2026, sang “Pemimpin Tertinggi” terpilih kembali sebagai Presiden Urusan Negara dengan angka kemenangan fantastis yang nyaris menyentuh 100%.
Kim Jong Un kembali terpilih sebagai Presiden Urusan Negara setelah menyapu bersih 99,93% suara dari para wakil rakyat. Kantor berita pemerintah, KCNA, melaporkan pada Selasa (24/3/2026) bahwa tingkat partisipasi pemilih mencapai angka nyaris sempurna, yakni 99,99%.
Meski dunia internasional, termasuk Reuters, sering menyebut parlemen Korut hanyalah “stempel karet” yang meresmikan kebijakan partai, Pyongyang mengklaim hasil ini adalah cerminan kepercayaan diri rakyat terhadap sistem politik mereka yang unik.
Sinyal Bahaya: Status Nuklir Adalah “Harga Mati”
Dalam pidato kemenangannya yang berapi-api di Pyongyang, pemimpin generasi ketiga dinasti Kim ini memberikan pesan keras kepada dunia. Ia menegaskan bahwa status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir tidak akan pernah bisa diubah.
“Kami akan terus memperkuat status kami sebagai negara nuklir melalui jalan yang tidak dapat diubah,” tegas Kim. Ia berargumen bahwa penguatan senjata nuklir adalah langkah “pertahanan diri” yang presisi untuk menghadapi ancaman strategis dari pihak asing.
Hubungan Memanas dengan Seoul
Terkait hubungan dengan Korea Selatan, Kim Jong Un menunjukkan sikap yang semakin dingin. Ia melabeli Seoul sebagai musuh yang paling bermusuhan. Meski Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, telah berulang kali menawarkan dialog tanpa prasyarat sejak menjabat Juni lalu, Kim memilih untuk mengabaikannya.
Ia bahkan mengancam akan memberikan balasan “tanpa ampun” jika ada tindakan dari Korea Selatan yang dianggap merugikan kedaulatan negaranya.
Ambisi Ekonomi: Melawan Sanksi dengan Industri
Di sektor domestik, Kim mematok target ambisius untuk rencana lima tahun ke depan. Ia memerintahkan peningkatan output industri hingga 1,5 kali lipat. Kim mengeklaim bahwa pertumbuhan ekonomi selama lima tahun terakhir telah membuktikan bahwa kemakmuran tetap bisa diraih tanpa harus menanggalkan senjata nuklir—mematahkan klaim negara-negara Barat.
Dengan terpilihnya kembali Kim Jong Un, Korea Utara tampaknya akan semakin menutup pintu diplomasi nuklir dan lebih fokus pada penguatan militer internal serta kemandirian ekonomi di tengah tekanan global.





