JAKARTA – Presiden Madagaskar, Andry Rajoelina mengungkapkan adanya upaya perebutan kekuasaan secara ilegal setelah personel militer dari salah satu unit mendeklarasikan dukungan terhadap pengunjuk rasa anti-pemerintah yang telah menggelar demonstrasi selama hampir sebulan. Pernyataan ini dikeluarkan sehari setelah personel dari Pusat Administrasi Personel Angkatan Darat (CAPSAT) menyatakan sikap mereka dalam sebuah video.
“Saat ini, kami menghadapi upaya yang jelas untuk merebut kekuasaan di negara ini, yang merupakan pelanggaran besar terhadap konstitusi dan prinsip demokrasi,” ujar pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor kepresidenan Madagaskar pada Minggu (12/10/2025), dikutip dari Anadolu.
Pada hari Sabtu, CAPSAT, yang dikenal sebagai unit militer yang berperan penting dalam menempatkan Rajoelina di pucuk kekuasaan melalui kudeta 2009, menyatakan dukungan mereka terhadap gelombang unjuk rasa anti-pemerintah yang berlangsung sejak bulan lalu. Dalam video tersebut, personel CAPSAT mengkritik keruntuhan layanan dasar di Madagaskar dan menyebutkan bahwa pasukan keamanan tidak boleh tunduk pada instruksi yang dianggap tidak sah.
“Layanan dasar di negara ini berada di ambang keruntuhan. Pasukan keamanan tak boleh begitu saja mematuhi instruksi yang tak sah,” kata mereka dalam pernyataan tersebut.
Kemudian, pada Minggu, CAPSAT mengeluarkan pernyataan lebih lanjut dengan menyatakan bahwa mereka kini mengambil alih kendali angkatan bersenjata Madagaskar. “Mulai hari ini, semua instruksi untuk tentara Madagaskar – baik untuk angkatan darat, udara, maupun laut – akan berasal dari markas CAPSAT,” ungkap mereka.
Pernyataan ini langsung mendapat kecaman keras dari pemerintah Madagaskar. Kantor kepresidenan menyerukan agar semua pihak di negara tersebut bersatu untuk mempertahankan konstitusi dan kedaulatan negara, menanggapi upaya perebutan kekuasaan tersebut.
Tanggapan Internasional dan Krisis Politik Berlanjut
Komisi Uni Afrika (AUC) juga menyatakan perhatian besar terhadap situasi yang berkembang di Madagaskar. Melalui akun media sosial X pada Minggu, Ketua AUC Mahmoud Ali Youssouf mengungkapkan kekhawatirannya terkait dinamika politik dan keamanan di negara tersebut, termasuk gerakan yang muncul di kalangan angkatan bersenjata serta demonstrasi di ibu kota, Antananarivo.
“AUC menyerukan semua pihak di Madagaskar untuk bertindak dengan tanggung jawab dan patriotisme, serta memastikan kesatuan, stabilitas, dan perdamaian di negara ini dengan menghormati konstitusi dan kerangka institusional,” demikian pernyataan AUC.
Sementara itu, unjuk rasa yang digelar oleh kelompok yang disebut “Generasi Z” terus berlanjut dan memasuki pekan ketiga. Awalnya dipicu oleh keluhan mengenai kelangkaan air dan listrik, tuntutan demonstran kini berkembang menjadi seruan agar Presiden Rajoelina mengundurkan diri dari jabatannya.
Situasi politik di Madagaskar kini semakin memanas, dengan ketegangan antara pihak pemerintah dan militer yang dapat berisiko meningkatkan ketidakstabilan di negara pulau tersebut.
