JAKARTA — Dunia jurnalisme kembali berduka. Saleh Aljafarawi, jurnalis muda Palestina yang dikenal lewat liputan-liputan beraninya dari garis depan konflik, dilaporkan tewas dalam bentrokan di Kota Gaza hanya beberapa hari setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas resmi diberlakukan.
Menurut laporan Al Jazeera Arabic, jurnalis berusia 28 tahun itu menjadi korban tembakan kelompok bersenjata saat sedang meliput insiden di kawasan Sabra, Gaza.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan jasadnya dengan rompi bertuliskan “press” terbujur di bak belakang truk, mengonfirmasi kabar duka yang mengguncang komunitas media Palestina.
Kematian Aljafarawi terjadi di tengah suasana genting setelah gencatan senjata pada 10 Oktober 2025.
Lembaga verifikasi Al Jazeera, Sanad, memastikan keaslian video yang menunjukkan kondisi terakhir sang jurnalis. Ia sempat dinyatakan hilang sejak Minggu pagi (12/10/2025), sebelum akhirnya ditemukan tak bernyawa di lokasi bentrokan.
Sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa peristiwa tersebut melibatkan pasukan keamanan Hamas dan kelompok bersenjata dari klan Doghmush.
Namun, belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Gaza. Seorang pejabat senior di Gaza menegaskan kepada Al Jazeera Arabic bahwa bentrokan itu dipicu oleh milisi yang berafiliasi dengan Israel dan bahkan menewaskan sejumlah pengungsi yang tengah kembali dari selatan ke Kota Gaza.
Kematian Aljafarawi menjadi simbol rapuhnya perdamaian di Gaza. Meski kesepakatan gencatan senjata telah tercapai, situasi keamanan tetap tidak menentu dan berpotensi berubah menjadi konflik terbuka kapan saja.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Januari lalu, beberapa hari sebelum gencatan senjata sementara dimulai, Aljafarawi pernah menuturkan penderitaan yang ia saksikan selama lebih dari 400 hari peliputan di Gaza Utara.
“Semua pemandangan dan situasi yang saya alami selama 467 hari ini tidak akan pernah terhapus dari ingatan. Semua yang kami hadapi — kami tidak akan pernah bisa melupakannya,” kata Aljafarawi.
Ia juga mengaku hidup di bawah ancaman konstan dari pihak Israel karena liputannya yang dianggap sensitif.
“Sejujurnya, saya hidup dalam ketakutan setiap detik, terutama setelah mendengar apa yang dikatakan pihak pendudukan Israel. Saya menjalani hidup detik demi detik, tanpa tahu apa yang akan terjadi di detik berikutnya,” ujarnya.
Sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023, lebih dari 270 pekerja media telah kehilangan nyawa di Gaza. Aljafarawi kini menjadi salah satu simbol keberanian jurnalis yang tetap mengabarkan kebenaran di tengah bahaya yang mengintai.
Tragedi ini terjadi ketika gencatan senjata di Gaza memasuki hari ketiga. Sementara itu, dunia tengah menantikan pertemuan para pemimpin dunia dalam KTT Gaza yang digelar di Sharm el-Sheikh, Mesir.
Pertemuan yang dipimpin bersama oleh Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu dijadwalkan membahas rencana perdamaian jangka panjang di Gaza.
Mesir mengonfirmasi bahwa dokumen penghentian perang akan ditandatangani dalam forum tersebut, meski baik Israel maupun Hamas tidak mengirimkan perwakilan.
Kematian Saleh Aljafarawi menambah daftar panjang korban dari kalangan jurnalis di Gaza — sebuah pengingat bahwa kebenaran sering kali harus dibayar mahal di tengah perang dan propaganda.***
