JAKARTA – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas menyatakan bahwa dirinya dan Presiden Masoud Pezeshkian tidak akan menghadiri KTT di Sharm El-Sheikh, Mesir, meskipun telah menerima undangan resmi deri pemerintah Mesir. Keputusan ini diambil sebagai bentuk protes terhadap sikap negara-negara yang dianggap memusuhi rakyat Iran.
Dalam pernyataannya di platform X yang dilansir dari Sputnik, Senin (13/10/2025), Araghchi menegaskan, “Kami tidak dapat berinteraksi dengan pihak-pihak yang telah menyerang rakyat Iran dan terus mengancam serta memberlakukan sanksi terhadap kami.” Pernyataan ini merujuk pada ketegangan berkelanjutan antara Iran dan beberapa negara, termasuk yang terlibat dalam konflik di kawasan.
Meski menolak kehadiran di KTT, Iran tetap menyambut baik inisiatif yang bertujuan mengakhiri “genosida Israel di Gaza” dan memastikan penarikan pasukan pendudukan dari wilayah tersebut. Sikap ini mencerminkan komitmen Iran terhadap penyelesaian konflik di Gaza, namun dengan syarat yang sesuai dengan kepentingan nasionalnya.
KTT Sharm El-Sheikh, yang akan digelar pada Senin, dipimpin bersama oleh Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan ini bertujuan mencari solusi untuk menghentikan konflik berdarah di Jalur Gaza yang telah menewaskan ribuan nyawa dan menyebabkan krisis kemanusiaan. Absennya Iran dari forum ini menimbulkan pertanyaan tentang dinamika diplomatik di kawasan dan tantangan untuk mencapai gencatan senjata yang inklusif.
Langkah Iran ini diperkirakan akan memengaruhi pembicaraan di KTT, mengingat peran penting Teheran dalam geopolitik Timur Tengah. Dunia kini menanti bagaimana Mesir dan AS akan menavigasi situasi ini untuk meredakan ketegangan dan membuka jalan bagi perdamaian di Gaza.