JAKARTA – Arab Saudi mendesak Amerika Serikat untuk kembali membuka jalur dialog dengan Iran, menyusul kekhawatiran atas risiko terhadap jalur minyak global.
Dilansir dari Sputnik, Selasa (14/4/20226), pejabat Saudi memperingatkan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran setelah gagalnya negosiasi dapat memicu dampak balik berupa gangguan energi internsional.
Trump disebut berupaya menekan Iran agar melonggarkan kontrol atas Selat Hormuz. Namun, Riyadh menilai langkah itu berisiko memperluas ancaman hingga Bab al-Mandeb, jalur strategis yang menangani sekitar 10 persen pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Kerajaan berhasil menjaga ekspor mendekati level pra-konflik dengan mengalihkan jalur ke pelabuhan Laut Merah. Meski demikian, jalur alternatif itu tetap rentan karena Iran memberi sinyal akan membalas jika aliran minyaknya dibatasi.
Potensi pengaruh Iran diperkuat oleh aliansinya dengan kelompok Houthi di Yaman, yang menguasai wilayah dekat Bab al-Mandeb. Kelompok ini sebelumnya telah menunjukkan kemampuan mengganggu lalu lintas maritim melalui serangan rudal dan drone, sehingga dipandang sebagai cadangan strategis Iran.
Selain ancaman fisik, efek domino terhadap pasar global juga dikhawatirkan. Biaya asuransi dapat melonjak, kapal terpaksa mengubah rute, dan pasokan energi tertunda—semua faktor yang berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi.