Eskalasi kemarahan ratusan calon jemaah Hanania Travel akhirnya memuncak. Merasa dipermainkan oleh janji-janji manis, massa jemaah nekat menggelandang Farhan, pemilik agen perjalanan umrah tersebut, langsung ke markas Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (28/5/2026).
Aksi penggiringan paksa ini dipicu oleh pengakuan mengejutkan dari sang owner di depan ratusan jemaah yang mengepung kantor cabangnya di Gedung EightyEight, kompleks Mal Kota Kasablanka (Kokas). Farhan secara blak-blakan melambaikan tangan tanda menyerah dan menyatakan tidak mampu memberangkatkan sekitar 1.260 calon jemaah umrah untuk kloter Juni–Juli 2026.
Tiga Poin Pengakuan Monolog Sang Owner yang Memicu Emosi
Rosa (50), bukan nama sebenarnya, salah satu calon jemaah yang mengawal kasus ini sejak awal, membeberkan tiga poin krusial hasil pertemuan sepihak yang sempat ditawarkan oleh Farhan sebelum tensi ruangan memanas:
-
Gagal Total: Manajemen Hanania Travel resmi membatalkan seluruh keberangkatan kloter Juni–Juli 2026 dengan dalih adanya sengkarut persoalan internal perusahaan.
-
Opsi Lempar Korban: Jemaah yang telanjur gagal berangkat disarankan untuk dialihkan ke agensi travel umrah lain yang bersedia menampung.
-
Refund ‘Gila’ 2 Tahun: Jika jemaah menolak dialihkan, pihak Hanania berjanji akan mengembalikan uang pelunasan secara penuh, namun dengan tenggat waktu cicilan selama dua tahun.
“Opsinya cuma dua: dialihkan ke travel lain atau uang kami dikembalikan dalam waktu dua tahun. Jelas kami tolak mentah-mentah! Mana ada jaminan uang kami aman? Karena kami sudah kehilangan kepercayaan, makanya dia kami giring beramai-ramai ke Polda agar rekening korannya diaudit!” tegas Rosa dengan nada dongkol.
Adu Argumen Sengit dan Bersatunya Tiga Kloter Korban
Pertemuan klarifikasi yang dijadwalkan mulai pukul 12.00 WIB tersebut seketika berubah menjadi arena adu mulut yang mencekam. Ketegangan sempat memanas ketika sejumlah bapak-bapak calon jemaah terlibat adu argumen sengit dengan Farhan yang dinilai terus berkelit dan tidak bisa memberikan jaminan aset yang pasti.
Borok Hanania Travel ini sebenarnya sudah mulai tercium sejak bulan Syawal (Maret) lalu, ketika ratusan jemaah kloter pertama gagal diterbangkan dan uang refund-nya masih menggantung hingga hari ini.
Gerakan gruduk kantor di Kokas hari Kamis ini nyatanya merupakan akumulasi kemarahan berlapis. Pasalnya, gerbang kantor tidak hanya dipadati oleh korban gagal berangkat kloter Syawal dan Juni–Juli, melainkan juga diikuti oleh calon jemaah kloter September 2026 yang mencium gelagat penipuan dan menuntut kejelasan nasib uang mereka sebelum terlambat.
Hingga berita ini diturunkan, bos Hanania Travel, Farhan, masih dikurung di ruang pemeriksaan Mapolda Metro Jaya guna menjalani audit forensik keuangan dan pemeriksaan intensif. Pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait status hukum sang pemilik travel.