Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bergerak cepat menelusuri dugaan keterlibatan para alumninya dalam skandal manipulasi sains internasional di ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD 2026) di Kopenhagen, Denmark. Manajemen kampus kini tengah menelisik secara intensif tiga nama yang mendadak viral karena diduga kuat melakukan fabrikasi data berbasis AI dan pemalsuan identitas berlapis.
Wakil Rektor UNY bidang Akademik, Prof. Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, Ph.D., mengonfirmasi bahwa tiga nama yang masuk dalam radar investigasi internal kampus adalah:
-
Rini Winarti (Terlacak di database alumni Jurusan Biologi)
-
Prihantini (Terlacak di database alumni Jurusan Matematika)
-
Rifaldy Fajar
“Pak Rektor (Prof. Sumaryanto) sudah memberikan dhawuh (perintah) kepada kami untuk menelisik, mengonfirmasi, dan melakukan tabayyun. Kami bergerak mengumpulkan informasi sebanyak mungkin sebelum ada instruksi lanjutan dari Kementerian,” ungkap Prof. Nur Hidayanto saat dikonfirmasi, Kamis (28/5/2026).
Buru Konfirmasi: Data ‘Setengah Iya, Setengah Bukan’
Prof. Nur Hidayanto membeberkan bahwa proses pelacakan sempat terkendala karena momentum libur panjang Iduladha, serta nomor kontak para terduga pelaku yang mendadak sulit dihubungi. Di dalam database UNY, ketiga nama tersebut memang valid tercatat sebagai alumni. Namun, kampus perlu memastikan apakah profil tersebut benar-benar orang yang sama atau sekadar kemiripan nama semata.
“Kami sedang pastikan: Apakah Rini Winarti, Rifaldy Fajar, dan Prihantini ini benar-benar alumni kami? Kasusnya saat ini seperti setengah iya, setengah bukan. Fotonya iya, sebagian datanya iya, tapi sebagian lagi belum sinkron karena belum ada jawaban langsung dari orangnya,” jelasnya.
Respons Menghindar Prihantini dan Langkah Komite Etik
Menariknya, dari ketiga nama tersebut, hanya Prihantini yang merespons pesan singkat dari Wakil Rektor, meskipun jawabannya dinilai tidak substantif dan defensif.
“Saya kontak sendiri Mbak Prihantini lewat WhatsApp, tapi jawabannya hanya template. Dia cuma bilang nanti akan ada klarifikasi di media sosial. Saat ini semua akun media sosial mereka sudah ditutup, ada yang bilang di-retas (hack), tapi kita harus tetap kritis membacanya,” kata Nur Hidayanto.
Terkait sanksi, pihak UNY menegaskan batas wilayah hukum mereka. Mengingat status terduga pelaku adalah alumni (bukan mahasiswa aktif), UNY secara legal-formal tidak bisa menjatuhkan sanksi akademik reguler seperti pencopotan status mahasiswa. Kendati demikian, pihak birokrasi rektorat berencana membawa temuan ini ke Sidang Komite Etik UNY pada hari Jumat besok untuk merumuskan sikap resmi institusi serta menunggu arahan dari Kemdiktisaintek.
Aib Global yang Dibongkar Alumnus Oxford
Skandal ini mencuat setelah Wa Ode Dwi Daningrat, mahasiswi S3 Oxford University, membongkar kejanggalan presentasi Prihantini cs di Denmark. Berbagai manipulasi gila terungkap, mulai dari klaim riset fiktif di Pegunungan Andes Peru tanpa mitra lokal, fabrikasi data vaksin PCV20 menggunakan kecerdasan buatan (AI), hingga trik ‘sulap’ identitas di mana Prihantini nekat menyamar menjadi pembicara laki-laki bernama “Dimas” hanya bermodalkan bertukar jilbab dan nametag dalam waktu 10 menit.
Dalam jurnal ilmiah di Denmark, nama Rini Winarti nekat mencatut nama besar Departemen Biologi UNY sebagai institusi asalnya, yang kini berbuntut panjang pada pertaruhan reputasi akademik kampus di tingkat internasional.