JAKARTA – Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan Rupiah Digital, versi digital dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen ini berbentuk stablecoin nasional dengan underlying Surat Berharga Negara (SBN), dirancang untuk memperkuat infrastruktur keuangan digital dan mendukung Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia hingga 2030.
Pengumuman strategis ini disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo saat membuka Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia & Indonesia Fintech Summit and Expo (FEKDI & IFSE) 2025 di Jakarta, Kamis (30/10/2025). Di tengah maraknya aset kripto, Rupiah Digital menjadi jawaban resmi pemerintah untuk menawarkan stabilitas nilai tukar berbasis rupiah, mengurangi dominasi mata uang digital asing, dan mendalami pasar keuangan domestik.
“Rupiah Digital kita akan kembangkan, bagaimana Sekuritas Rupiah Bank Indonesia [SRBI] ada versi digitalnya: Rupiah Digital Bank Indonesia yang dengan underlying SBN [surat berharga negara]. Ini versi stablecoin-nya [aset kripto bernilai stabil] resmi nasional Indonesia,” tegas Perry Warjiyo.
Rupiah Digital akan diterbitkan dan diperdagangkan melalui distributed ledger technology (DLT) untuk menjamin keamanan dan transparansi. Pengembangan dilakukan bertahap dalam tiga fase:
2025–2026:
Fokus pada eksperimen penerbitan, transfer, penarikan, dan pencatatan sekuritas digital guna membangun fondasi teknis yang solid.
2027–2028:
Perluasan ke operasi moneter dan transaksi pasar keuangan, termasuk integrasi dengan instrumen existing.
2029–2030:
Pemanfaatan fitur programmability, composability, dan tokenisasi untuk meningkatkan likuiditas pasar secara signifikan.
Sebagai pelengkap, BI juga memperkenalkan BI-Floating Rate Note (BI-FRN) untuk memperkaya portofolio instrumen moneter dan mempercepat transmisi kebijakan suku bunga. Perry pertama kali mengungkap rencana ini dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober secara virtual pada Rabu (22/10/2025):
“Menerbitkan BI-FRN dan pengembangan Overnight Index Swap (OIS) untuk tenor di atas overnight untuk membentuk struktur suku bunga yang berdasarkan transaksi di pasar uang.”
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi & Moneter BI, Juli Budi Winantya, menambahkan dalam Pelatihan Wartawan BI di Bukittinggi pada Jumat (24/10/2025):
“Ke depan, SRBI akan ditambah dengan BI-FRN untuk memperkaya instrumen sekaligus memperdalam pasar keuangan.”
Sementara Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan:
“Kita akan perluas ke surat berharga lain yang berkualitas tinggi. Bentuknya seperti apa? Nanti akan disampaikan [pada pekan pertama November 2025], tapi tujuannya adalah memperdalam pasar keuangan domestik agar bisa mendukung sektor riil melalui peningkatan penyaluran kredit.”
Langkah ini merespons lambatnya transmisi penurunan BI Rate ke sektor riil. Meski BI memangkas suku bunga acuan 150 basis poin dari 6,25% menjadi 4,75% dalam setahun, suku bunga deposito 1 bulan hanya turun 29 bps ke 4,52% pada September 2025, sementara suku bunga kredit berjalan merosot 15 bps menjadi 9,05%.
“(Penurunan bunga simpanan dan kredit) itu yang kami terus dorong. Tentu saja agar mendorong pertumbuhan ekonomi. Itulah efektivitas transmisi suku bunga,” ujar Perry.
Dengan Rupiah Digital dan BI-FRN, BI tidak hanya menjawab era digitalisasi tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah volatilitas global. Pelaku fintech dan investor menanti detail integrasi dengan QRIS serta e-wallet. Update resmi dijadwalkan pekan depan, menandai babak baru pembayaran digital berbasis rupiah.