JAKARTA – Banjir setinggi lutut kembali melanda Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, selama tiga hari terakhir, memaksa 400-500 keluarga mengungsi dari rumah mereka. Warga menuntut Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, turun tangan segera, karena tanggul sementara yang dibangun pemerintah gagal menahan debit tinggi Kali Pulo dan tidak menyelesaikan masalah struktural yang berulang setiap musim hujan.
Kondisi ini telah berlangsung selama tiga hari terakhir, dengan genangan air mencapai kedalaman 30-50 cm di RT 03 RW 06, setinggi lutut orang dewasa. Meski air mulai surut, ancaman banjir susulan masih mengintai akibat tanggul yang belum diperbaiki. Dampaknya menyasar sekitar 400-500 kepala keluarga (KK), mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan kerugian material yang signifikan.
Abdul Kohar, Ketua RW 06 Jati Padang, menyoroti urgensi intervensi dari pemimpin tertinggi DKI Jakarta. “Kami, masyarakat dan warga, harus benar-benar dicarikan solusi yang terbaik, dari pihak yang bertanggung jawab, terutama yang punya ‘power’ adalah DKI 1. Perbaikan tanggul untuk sementara, jangka pendek, jangka menengah, jangka panjangnya harus dicarikan solusi terbaik, normalisasi kali atau buat embung atau setu, dibebaskan 7,4 hektar semua selesai,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (1/11/2025).
Menurut Kohar, upaya lokal dari tingkat RT/RW hingga kelurahan dan kecamatan terbukti tak cukup kuat untuk menyelesaikan masalah struktural ini. “Dari tingkat RT/RW sampai kelurahan dan kecamatan tidak bisa memutuskan solusi terbaiknya, DKI 1 harus terjun, harus turun. Ini terus terang saja di RT 3 ini ada 400-500 KK kan, ini keadaannya sudah 3 hari masih kayak gini,” tuturnya.
Warga juga mengeluhkan pola banjir berulang setiap musim hujan, yang disebabkan oleh faktor seperti penyempitan sungai dan kurangnya drainase memadai. Kohar menambahkan bahwa meski banjir saat ini mulai mereda, risiko jebolnya tanggul tetap tinggi jika hujan deras disertai air kiriman dari hulu. “Saat ini kedalaman air memang sudah agak surut, 30-50 cm, tinggal sebatas dengkul, tapi kalau ada air kiriman lagi karena tanggulnya belum diapa-apakan, ya sampai kapan pun, tenggelam ini di RT 03,” jelas Abdul lagi.
Solusi jangka panjang yang diusulkan mencakup normalisasi Sungai Kali Pulo, pembangunan embung atau setu untuk menampung air, serta pembebasan lahan seluas 7,4 hektar guna memperluas ruang retensi. Warga berharap dapat berdiskusi langsung dengan pemerintah provinsi, mengingat gubernur-gubernur sebelumnya pernah menunjukkan perhatian serius terhadap isu banjir di kawasan ini.
Hingga kini, belum ada respons resmi dari Pemprov DKI Jakarta terkait keluhan ini. Banjir di Jakarta Selatan, termasuk Jati Padang, sering kali menjadi sorotan nasional karena dampaknya terhadap jutaan penduduk dan ekonomi kota. Pemerintah pusat dan daerah terus berupaya melalui program seperti Normalisasi Sungai Ciliwung, tetapi warga menilai implementasi di lapangan masih lambat.