JAKARTA – Tidak hanya membawa pulang trofi dan bonus sebagaimana tercantum dalam kontraknya, Marco Bezzecchi memperoleh hadiah istimewa setelah menutup musim MotoGP 2025 dengan kemenangan di Valencia. Hadiah itu datang dari sebuah taruhan yang ia buat dengan CEO Aprilia, Massimo Rivola, di mana motor akan menjadi miliknya jika ia memenangi Grand Prix.
Pembalap berusia 27 tahun tersebut telah memastikan posisi ketiga klasemen 2025 saat Sprint Race Valencia pada Sabtu, meski sedikit kecewa karena gagal naik podium setelah start dari pole position.
Pada balapan utama hari Minggu, Bezzecchi tampil dominan. Ia memimpin Grand Prix Valencia dari awal hingga akhir, sekaligus mampu meredam tekanan keras dari Raul Fernandez pada lap-lap terakhir. Setelah sebelumnya menang di Silverstone dan Portimao, kemenangan di Valencia memastikan Bezzecchi memenangkan taruhan dan berhak atas RS-GP 25.
Merayakan keberhasilannya, Bezzecchi sempat berhenti di cooldown lap untuk “melamar” motor barunya itu. “Begini, sekarang lagi ngetren banget untuk menikah, dan saya ingin mengikuti tren karena biasanya saya tidak ikut-ikutan hal seperti ini,” candanya pada Minggu malam, seperti dilansir dari Crash, Senin (17/11/2025). “Saya suka motornya, sangat keren.”
“Saya memenangi motor ini lewat taruhan, waktu saya berbicara dengan Massimo ‘kalau saya bisa menang tiga Grand Prix, motornya saya bawa pulang’.”
“Dan saya mendapatkan motornya. Jadi, saya harus bertanya, apa dia mau menikah dengan saya, dan untungnya, dia setuju.”
Terkait tempat penyimpanan, Bezzecchi menyebut motor tersebut akan dipajang di ruang tamu rumahnya, di sebuah area yang sengaja ia kosongkan sepanjang musim. “Bukan di kamar tidur saya, tapi saya punya tempat yang sempurna,” katanya. “Ada di ruang tamu saya.”
“Saya punya ruang besar yang saya kosongkan sepanjang musim, dan itu hal pertama yang saya lihat ketika masuk ke dalam rumah. Jadi, seperti ini, ketika saya pulang latihan, saya ingat betul apa yang ingin saya capai.”
Bezzecchi juga mengakui bahwa hasil Sprint Race menjadi pemantik performa luar biasanya di balapan utama. Ia menyebut kegagalannya naik podium di sprint sebagai “tamparan di wajah”, namun justru membuatnya semakin bersemangat. “Yah, kemarin, setelah pole position, saya sangat percaya diri,” lanjutnya. “Tapi di Sprint Race saya mendapat tamparan di wajah karena saya tidak bisa bertarung untuk podium.
“Ini, tentu saja, membuat saya marah dan termotivasi untuk bisa bertarung hari ini. Jadi, saya sangat puas.”