JAKARTA – Plt. Direktur Jenderal PDSPKP KKP bersama Kemenko PMK dan Kemenko Pangan membahas urgensi sinkronisasi program makan bergizi gratis (MBG) untuk meningkatkan konsumsi ikan nasional dalam forum Bincang Bahari di Jakarta.
Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Pangan, Dandy Satria Iswara menegaskan bahwa peningkatan konsumsi ikan dapat dipercepat apabila MBG terhubung langsung dengan potensi sumber daya lokal di setiap wilayah.
Menurut Dandy, ketersediaan perikanan budidaya di darat dan perikanan tangkap di wilayah pesisir memungkinkan seluruh daerah ikut menopang kebutuhan ikan untuk pelaksanaan program MBG.
Ia menambahkan bahwa sinkronisasi diperlukan agar pasokan ikan bagi menu MBG tetap terjaga mengingat porsi ikan sudah menjadi bagian wajib dalam paket konsumsi program tersebut.
Dandy menjelaskan bahwa kebutuhan ikan untuk MBG mencapai angka yang sangat besar seperti yang ia sebutkan, “Nah itu kalau dihitung itu bukan main.”
“Jadi hanya sekian gram per menu kemudian dua kali seminggu saja itu kurang lebih hampir 415 ribu ton kebutuhan ikan untuk memenuhi itu saja.”
“Nah ini otomatis mana kala artinya dua kali seminggu otomatis di seluruh wilayah peningkatan konsumsinya akan menjadi lebih tinggi,” katanya.
Ia menilai bahwa konsumsi ikan nasional akan terdongkrak signifikan apabila penerapan MBG berjalan serentak di seluruh Indonesia.
Dandy menegaskan bahwa kebijakan tersebut secara langsung memberi pengaruh besar terhadap perbaikan gizi masyarakat dan kualitas konsumsi protein hewani.
Ia menerangkan bahwa masih terdapat pekerjaan rumah terkait penjaminan pasokan ikan bagi MBG yang harus diselesaikan bersama KKP.
Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyoroti masih rendahnya tingkat konsumsi ikan nasional yang tercatat dalam evaluasi internal.
Machmud mengatakan, “Yang kita disampaikan tadi masih kecil Pak, konsumsi ikan kita masih kecil,” ketika memaparkan data perkembangan konsumsi ikan.
Ia merinci bahwa tingkat konsumsi ikan nasional pada 2024 baru mencapai 25,31 kilogram per kapita dan masih membutuhkan percepatan untuk memenuhi target tahunan.
Machmud optimistis konsumsi ikan nasional mampu menyentuh angka 26,6 kilogram per kapita pada akhir 2025 dan terus naik hingga 28,63 kilogram per kapita pada 2029 mendatang.
Ia menegaskan harapannya dengan pernyataan, “Mudah-mudahan ini bisa tercapai,” sebagai bagian dari komitmen peningkatan konsumsi ikan.
Di sisi lain, ia mengungkapkan bahwa distribusi konsumsi ikan antarwilayah masih belum merata dengan beberapa daerah mencatatkan angka tinggi sementara yang lain masih tertinggal.***