JOHANNESBURG, AFSEL – Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva mengungkapkan rencana mendesaknya untuk menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump guna membahas penumpukan kekuatan militer AS terbesar di Laut Karibia sejak Krisis Rudal Kuba 1962. Lula menyebut situasi ini berpotensi mengguncang stabilitas seluruh Amerika Selatan.
Pernyataan keras itu disampaikan Lula saat jumpa pers penutupan KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, Minggu malam waktu setempat.
“Saya sangat khawatir tentang aparatus militer yang telah ditempatkan Amerika Serikat di Laut Karibia,” tegas Lula.
“Saya berniat untuk membahas hal ini dengan Presiden Trump karena hal ini membuat saya khawatir.” ucapnya
Ia melanjutkan, “Saya berharap tidak terjadi sesuatu yang merugikan secara militer di Amerika Selatan.”
Penumpukan Militer AS Terbesar dalam 63 Tahun
Amerika Serikat telah mengerahkan sekitar 15.000 personel militer ke kawasan Karibia dan sekitarnya, termasuk kapal induk supercanggih USS Gerald R. Ford, belasan kapal perang, jet tempur stealth F-35, serta kapal selam serang bertenaga nuklir. Ini menjadi operasi angkatan laut AS terbesar di wilayah tersebut sejak konfrontasi nuklir dengan Uni Soviet pada 1962.
Gedung Putih menyebut operasi ini sebagai “kampanye penanggulangan narkoba berskala besar”. Sejak September 2025, pasukan AS telah melakukan setidaknya 21 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga mengangkut narkotika di Karibia dan Pasifik Timur, menewaskan 83 orang.
Venezuela Ditetapkan sebagai Organisasi Teroris
Langkah militer ini bersamaan dengan keputusan kontroversial Departemen Luar Negeri AS yang menetapkan Cartel de los Soles – yang dituding dipimpin langsung Presiden Venezuela Nicolás Maduro – sebagai organisasi teroris asing, efektif mulai 24 November 2025.
Presiden Trump menyatakan penetapan ini memberinya wewenang hukum untuk menyerang infrastruktur di dalam wilayah Venezuela jika diperlukan, meski ia masih membuka pintu diplomasi dengan Maduro.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan penetapan tersebut “memberikan sejumlah besar opsi baru” bagi tindakan militer Washington.
Reaksi Keras dari Amerika Latin
Langkah AS memicu gelombang kecaman regional:
- Presiden Kolombia Gustavo Petro menghentikan kerja sama intelijen dengan AS dan menyebut serangan kapal-kapal tersebut sebagai “eksekusi di luar proses hukum”.
- Venezuela merespons dengan memobilisasi 200.000 tentara di perbatasan, menyebut pengerahan AS sebagai “ancaman imperialis terbuka”.
Brasil Khawatir Efek Domino
Dengan perbatasan darat sepanjang 2.199 kilometer bersama Venezuela, Brasil menjadi negara yang paling rentan terdampak jika konflik meningkat. Lula berulang kali menawarkan diri sebagai mediator regional untuk meredakan ketegangan AS-Venezuela.
Meski Trump absen di KTT G20 Johannesburg, Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah KTT G20 tahun depan di Miami, memberi peluang pertemuan langsung Lula-Trump dalam waktu dekat.
Situasi di Karibia kini menjadi sorotan dunia, dengan risiko konflik bersenjata terbuka di belakang pintu Amerika Latin semakin nyata.
