JAKARTA – Para pemilik rumah di kompleks yang hancur akibat salah satu kebakaran paling mematikan di Hong Kong diberi informasi yang salah oleh kontraktor yang dipekerjakan. Dokumen yang dilihat Reuters menunjukkan bahwa pihak berwenang yang disalahkan atas kebakaran tersebut memiliki catatan keselamatan yang dianggap bersih. Warga mendapat jaminan dari Will Power Architects, yang ditunjuk oleh perusahaan pengelola rumah mereka untuk mengevaluasi tawaran kontrak renovasi, bahwa Prestige Construction & Engineering Co. tidak memiliki masalah keselamatan.
Namun, kenyataannya jauh berbeda. Prestige, kontraktor yang disewa untuk merenovasi kompleks tersebut, sebenarnya telah berulang kali diberi sanksi oleh regulator keselamatan kota. Catatan Departemen Tenaga Kerja mengungkapkan bahwa Prestige telah didenda lebih dari 15 kali antara tahun 2016 hingga 2019 karena pelanggaran serius, termasuk kesalahan dalam pemasangan perancah dan sambungan listrik yang berbahaya.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (6/12/2025), proyek renovasi senilai HK$330 juta (sekitar $42,4 juta) ini dimulai setelah tawaran Prestige dianggap salah satu yang terbaik, meskipun perusahaan tersebut memiliki catatan keselamatan yang buruk. Sejumlah warga, termasuk mereka yang berpengalaman di bidang konstruksi, melaporkan adanya pelanggaran di lokasi proyek, seperti pekerja yang merokok di sekitar area renovasi dan penggunaan bahan mudah terbakar di perancah bangunan.
Will Power, yang bertanggung jawab memberikan rekomendasi terkait kontraktor, menyatakan dalam presentasi bahwa Prestige memiliki catatan yang bersih, namun tidak ada penjelasan mengenai apakah perusahaan tersebut mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran mereka. Hingga kini, baik Will Power maupun Prestige tidak memberikan tanggapan terkait hal ini.
Penyelidikan Kebakaran dan Korupsi
Penyelidikan kini sedang berlangsung setelah kebakaran hebat di Pengadilan Wang Fuk pada 26 November lalu, yang menewaskan setidaknya 159 orang. Investigasi mengungkapkan bahwa material yang digunakan Prestige, seperti jaring di perancah bangunan dan papan busa pelindung jendela, tidak memenuhi standar keselamatan kebakaran yang berlaku. Pihak berwenang juga menyatakan bahwa kontraktor berusaha menipu inspektur dengan mencampur material berkualitas rendah dengan yang berkualitas tinggi.
Sebanyak tiga orang yang terkait dengan Prestige dan empat orang dari Will Power telah ditangkap terkait kasus ini. Pihak berwenang belum mengungkapkan identitas para tersangka, dan penyelidikan lebih lanjut sedang berlangsung.
Ketidakpuasan Warga dan Proses Renovasi
Renovasi di Wang Fuk Court, yang dimulai pada 2024, semakin memicu ketidakpuasan di kalangan warga. Proyek ini dimulai dengan anggaran sekitar HK$150 juta, namun biaya meningkat lebih dari dua kali lipat setelah cakupan pekerjaan diperluas. Warga mengeluhkan biaya tinggi dan kurangnya konsultasi terkait ruang lingkup pekerjaan.
Meskipun adanya ketegangan, dewan pemilik rumah akhirnya tidak membatalkan kontrak dengan Prestige setelah mendapat nasihat hukum yang mengingatkan mereka akan risiko hukum. Namun, dewan baru segera meluncurkan tinjauan ulang terhadap proyek tersebut, termasuk mengkaji risiko kebakaran dan melibatkan warga yang berpengalaman di bidang konstruksi untuk mengawasi keamanan proyek.
Tragedi Kebakaran
Kebakaran yang menewaskan banyak korban akhirnya menghancurkan banyak harapan warga, termasuk Wong, seorang pensiunan tukang listrik yang berusaha mengurangi risiko kebakaran dengan mengganti papan busa yang mudah terbakar di apartemennya dengan bahan yang lebih aman. Meskipun usahanya, dia tidak bisa menghindari tragedi yang terjadi, dan anaknya menggambarkan perasaan putus asa di tengah musibah tersebut.
Kisah ini menjadi sorotan bagaimana sistem pengawasan keselamatan yang lemah dan keputusan kontraktor yang ceroboh dapat berujung pada tragedi besar, serta perjuangan warga untuk mendapatkan perlindungan yang mereka butuhkan dalam proses renovasi rumah mereka.
