Pasukan militer Thailand menghancurkan dua bangunan strategis di Poipet, Kamboja, pada Senin sore. Operasi tersebut menargetkan struktur yang diidentifikasi Komando Wilayah Angkatan Darat Pertama Thailand sebagai posisi penembak jitu sekaligus pusat kejahatan siber lintas negara.
Serangan yang dilakukan Satuan Tugas Burapha sekitar pukul 13.48 waktu setempat itu menyasar bangunan yang dilengkapi sistem anti-drone dan berada tepat di seberang Provinsi Sa Kaeo. Menurut militer Thailand, tidak ada tembakan balasan dari pihak Kamboja setelah serangan tersebut, dan para operator jaringan penipuan dilaporkan melarikan diri dari lokasi.
Aksi ini menandai eskalasi terbaru konflik perbatasan Thailand–Kamboja yang kembali berkobar sejak awal Desember. Sedikitnya 39 orang dilaporkan tewas, sementara lebih dari setengah juta warga terpaksa mengungsi akibat pertempuran yang terus meluas.
Thailand Klaim Targetkan Pusat Penipuan Internasional
Pemerintah Thailand membingkai sebagian operasi militernya sebagai upaya memerangi sindikat kejahatan transnasional. Sepanjang bulan ini, pasukan Thailand dilaporkan telah menyerang sedikitnya empat kasino dan kompleks penipuan daring di sepanjang perbatasan Kamboja.
Militer Thailand mengklaim fasilitas-fasilitas tersebut memiliki fungsi ganda, tidak hanya sebagai pusat penipuan internasional, tetapi juga sebagai depot senjata dan posisi tembak pasukan Kamboja.
Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kamboja diperkirakan menampung sekitar 100.000 pekerja di industri penipuan online—banyak di antaranya merupakan korban perdagangan manusia. Aktivitas ilegal ini disebut menghasilkan pendapatan antara US$12,5 miliar hingga US$19 miliar per tahun.
Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, memperingatkan bahwa para pekerja asing yang dipaksa bekerja di kompleks penipuan kini menghadapi risiko tambahan akibat pertempuran bersenjata, dan menyerukan evakuasi segera bagi mereka yang terjebak di zona konflik.
Laporan Amnesty International pada Juni lalu mengungkap setidaknya 53 pusat penipuan aktif di seluruh Kamboja, banyak di antaranya beroperasi di kasino dan hotel yang dialihfungsikan. Organisasi hak asasi manusia juga mendokumentasikan praktik penyiksaan, kerja paksa, dan pelanggaran berat lainnya di lokasi-lokasi tersebut.
Upaya Diplomasi dan Seruan Gencatan Senjata
Di tengah meningkatnya ketegangan, para menteri luar negeri Asia Tenggara menggelar pertemuan darurat di Kuala Lumpur pada Senin. Dalam forum ASEAN tersebut, Thailand dan Kamboja sepakat untuk mengadakan pembicaraan gencatan senjata pada 24 Desember.
ASEAN mendesak kedua negara menunjukkan “pengekangan maksimal”, menyusul runtuhnya kesepakatan damai yang sebelumnya dimediasi Amerika Serikat dan ditandatangani pada Oktober lalu.
Namun, Kamboja membantah keras tuduhan Thailand. Sekretaris Jenderal Komisi Manajemen Perjudian Komersial Kamboja, Ros Phirun, menyebut serangan militer Thailand sebagai tindakan “sepenuhnya ilegal”. Pemerintah Kamboja melaporkan sedikitnya 18 warga sipil tewas sejak 8 Desember, sementara Thailand mengakui satu korban sipil akibat langsung pertempuran.
Konflik kedua negara berakar pada sengketa perbatasan sepanjang sekitar 800 kilometer yang ditetapkan sejak era kolonial. Hingga kini, pertempuran tersebut telah memaksa sekitar 518.000 warga mengungsi di Kamboja dan sekitar 400.000 orang di Thailand.
