JAKARTA – Di tengah kesibukan yang padat, seorang penulis memilih berhenti sejenak. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menuliskan suara hati tentang bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra.
Tulisan itu lahir dalam waktu singkat. Namun, di balik proses yang kilat, tersimpan gagasan yang telah lama mengendap.
“Saya menulisnya memang cukup kilat, karena kebetulan kemarin ada kesibukan. Tapi berkat pertemuan dengan teman-teman dari berbagai penjuru tanah air, saya teringat lagi bahwa ada lomba dengan ide yang sudah lama saya simpan, yaitu refleksi tentang bencana di berbagai daerah, khususnya di Sumatra,” ujar A’yat Khalili pada GarudaTV usai membacakan puisinya dalam acara “Indonesia Kita: Merajut Kebangsaan” di Jakarta, Rabu malam (11/2/2026).
A’yat Khalili adalah juara pertama Lomba Menulis Puisi Solidaritas untuk Indonesia yang diselenggarakan oleh GarudaTV. Keikutsertaannya dalam lomba tersebut bukan sekadar partisipasi formal. Ia melihatnya sebagai bagian dari tanggung jawab moral seorang penulis.
“Salah satu alasan saya ikut berpartisipasi tentu saja ini menjadi bagian dari saya sebagai penulis. Paling tidak saya bisa menyuarakan empati dari hati tentang apa yang saudara-saudara kita rasakan di Sumatra,” katanya.
Kedekatan emosional dengan Sumatra juga menjadi pemicu kuat. Ia memiliki banyak teman yang kini tinggal bersamanya di Depok. Dari merekalah ia mendengar langsung cerita tentang keluarga yang terdampak bencana.
“Mereka sejak awal sudah bercerita kepada saya tentang keadaan keluarganya di sana. Hal itu memicu saya untuk menjadi bagian dari suara-suara Indonesia, suara lain dari daerah lain, untuk ikut berempati terhadap keadaan mereka,” tuturnya.
Baginya, bencana bukan hanya peristiwa geografis yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Bencana adalah pengingat tentang ikatan kebangsaan yang melampaui sekat suku, agama, adat, budaya, dan bahasa.
“Dari refleksi pascabencana ini, yang perlu kita ingat adalah bahwa di manapun kita berada, kita selalu punya saudara. Walaupun berbeda suku, berbeda agama, adat, budaya, dan bahasa, mereka tetap saudara-saudara kita. Kita harus menjadi bagian dari keadaan mereka, setidaknya berempati dan berdoa,” ucapnya penuh harap.
Melalui tulisan yang lahir dari kesadaran dan kepedulian, ia berharap empati tak berhenti pada rasa iba, melainkan menjelma menjadi solidaritas nyata—karena dalam setiap bencana, selalu ada panggilan untuk saling menguatkan sebagai satu bangsa.



