JAKARTA – Pemerintah mendorong kerja sama ekonomi Indonesia dan Tiongkok agar tidak berhenti pada besarnya nilai investasi.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menekankan pentingnya investasi asing menciptakan manfaat langsung bagi masyarakat.
Menurut Qodari, manfaat tersebut dapat terlihat dari pembukaan lapangan kerja, pertumbuhan UMKM, hingga penguatan rantai pasok lokal.
“Pemerintah Indonesia sangat terbuka bagi kerja sama yang membuka lapangan kerja bagi rakyat dan menghidupkan usaha lokal,” ujar Qodari.
Pernyataan itu disampaikan saat Qodari menjadi pembicara utama Indonesia–China Digital City & Security Technology Application Forum 2026 di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Forum tersebut membahas peluang kerja sama Indonesia dan Tiongkok, khususnya dalam pengembangan kota digital serta teknologi keamanan.
Qodari menilai keberadaan investasi perlu diterjemahkan ke dalam manfaat ekonomi yang mudah dipahami masyarakat di sekitar lokasi proyek.
Karena itu, masyarakat perlu mengetahui kontribusi investasi terhadap kesempatan kerja, aktivitas UMKM, serta berbagai sektor yang masuk dalam rantai pasok.
“Ceritakan dampaknya bagi lapangan kerja. Bagi UMKM lokal dan bagi rantai pasok di tempat di mana investasi itu masuk,” katanya.
Ia juga mendorong organisasi masyarakat seperti Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) ikut menyampaikan informasi tersebut dengan bahasa sederhana.
Langkah itu dinilai penting agar masyarakat memahami hubungan antara masuknya modal, kegiatan usaha, dan peningkatan aktivitas ekonomi di daerah.
Qodari menyebut hubungan ekonomi Indonesia-Tiongkok telah berkembang dalam skala besar selama bertahun-tahun.
Investasi langsung Tiongkok ke Indonesia tercatat mencapai USD3,9 miliar atau sekitar Rp69,52 triliun pada semester pertama 2026.
Selain investasi, nilai perdagangan kedua negara pada tahun sebelumnya mencapai USD167 miliar atau sekitar Rp2,98 kuadriliun.
Tiongkok juga tercatat menjadi salah satu mitra ekonomi utama Indonesia dalam hubungan perdagangan dan investasi bilateral.
Besarnya nilai kerja sama tersebut, menurut Qodari, perlu diikuti dengan dampak yang dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
Pemerintah menginginkan investasi tidak hanya meningkatkan arus modal, tetapi turut memperluas kesempatan kerja dan aktivitas bisnis masyarakat.
Penguatan kemitraan dengan Tiongkok juga berlangsung di tengah upaya pemerintah mendorong investasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam forum yang sama, pemerintah menyatakan peningkatan investasi dan teknologi diperlukan untuk memperkuat kapasitas ekonomi domestik.
Dengan demikian, keberhasilan investasi tidak semata diukur berdasarkan nilai modal yang masuk, tetapi juga kontribusinya terhadap ekonomi daerah.***