Hampir sebulan setelah banjir bandang menerjang Aceh, denyut kehidupan perlahan kembali terasa di tengah puing-puing dan lumpur. Di Desa Manyang Cut, Kabupaten Pidie Jaya, warga mulai mengangkat cangkul dan sekop, membersihkan endapan lumpur setinggi hampir dua meter yang sempat menelan rumah mereka.
“Di lapangan, beberapa warga sudah mulai bergerak sendiri untuk membersihkan lumpur secara mandiri,” ujar Nasruddin (38), warga setempat, Selasa (23/12/2025). Upaya itu menjadi penanda awal kebangkitan, meski luka akibat bencana belum sepenuhnya pulih.
Trauma Berangsur Surut, Warga Mulai Pulang
Di Aceh Tamiang, rasa takut yang sempat membelenggu perlahan mencair. Setelah 24 hari meninggalkan rumah, warga Kampung Blang Cut mulai memberanikan diri kembali, meski hanya sekadar singgah.
“Intinya ke rumah saja, rindu suasananya. Ada yang cuma makan di depan rumah,” tutur Fadil, relawan SalamAid. Namun, sebagian warga masih enggan menatap sungai yang pernah meluap dahsyat—jejak trauma yang belum sepenuhnya terhapus.
Pemulihan lebih cepat terlihat di Aceh Barat. Seluruh 39.890 pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing. Pelaksana Tugas Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, mengatakan bantuan logistik seperti beras, telur, minyak goreng, dan kebutuhan pokok telah disalurkan secara bertahap.
Ribuan Korban, Infrastruktur Rusak Parah
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 23 Desember 2025 mencatat 483 korban meninggal dunia, sementara 32 orang masih dinyatakan hilang. Sebanyak 473.288 warga masih bertahan di 2.174 titik pengungsian.
Kerusakan infrastruktur tergolong masif: 119.219 rumah rusak, 1.098 ruas jalan terdampak, serta 492 jembatan mengalami kerusakan akibat terjangan banjir bandang.
Pemerintah Percepat Pemulihan dan Bangun Hunian Sementara
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan sembilan jalan nasional dan enam jembatan provinsi telah berhasil dipulihkan. Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan pemulihan infrastruktur utama rampung sebelum akhir Desember 2025.
“Beberapa ruas sudah bisa dilalui kendaraan roda dua. Kami kejar agar sebelum akhir Desember dapat dilewati kendaraan roda empat,” kata Abdul Muhari.
Untuk meringankan beban warga, BNPB menyalurkan Dana Tunggu Hunian sebesar Rp600.000 per bulan selama enam bulan bagi keluarga yang rumahnya rusak berat atau hilang. Hunian sementara ditargetkan rampung sebelum pertengahan Februari 2026 atau jelang Ramadan, dengan lokasi pembangunan di Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Setiap hari, 100 ton bantuan logistik dikirim dari Jakarta. Hingga 22 Desember 2025, total bantuan yang telah disalurkan mencapai 1.266 ton.
Gotong Royong Jadi Harapan
Meski pemulihan terus berjalan, tantangan di lapangan masih besar. Di Aceh Tamiang, ribuan relawan masih dibutuhkan untuk membersihkan lumpur di rumah warga dan fasilitas umum.
“Tanpa relawan dalam jumlah memadai, pembersihan ini sulit selesai dalam sebulan ke depan,” ujar Budi, relawan di lapangan.
Namun di tengah keterbatasan, semangat gotong royong terus menyala. Relawan dari Aceh Jaya, Aceh Barat, hingga berbagai daerah lain terus berdatangan—membawa bantuan, tenaga, dan harapan baru bagi warga yang perlahan bangkit dari bencana.