Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan pada Jumat bahwa pasukannya telah merebut desa Kosivtseve di tenggara Ukraina. Moskow mengklaim penguasaan lebih dari 23 kilometer persegi wilayah, seiring intensifikasi serangan ofensif Rusia di sejumlah front pertempuran.
Wilayah yang diklaim dikuasai itu berada di sekitar Huliaipole, kota strategis yang dalam beberapa pekan terakhir menghadapi tekanan militer Rusia yang kian meningkat. Pengumuman tersebut disampaikan bertepatan dengan kunjungan Presiden Vladimir Putin ke sebuah pos komando militer pada Sabtu, di mana ia menerima laporan situasi medan perang dari Kepala Staf Umum Rusia Valery Gerasimov terkait kemajuan pasukan di wilayah Donetsk dan Zaporizhzhia, Ukraina.
Menurut pernyataan resmi Moskow, Rusia saat ini menguasai sekitar 19 persen wilayah Ukraina, dengan pola kemajuan yang disebut lambat namun konsisten ke arah barat. Otoritas Rusia juga rutin mengumumkan keberhasilan penguasaan desa-desa baru beberapa kali dalam sepekan.
Ukraina Akui Insiden di Lapangan, Bantah Klaim Penguasaan Wilayah
Di sisi lain, militer Ukraina mengonfirmasi terjadinya apa yang disebut sebagai “insiden yang tidak menguntungkan” di kawasan Huliaipole. Komandan Resimen Serangan Terpisah Pertama Ukraina, Dmytro Filatov, mengungkapkan bahwa tiga tentara Rusia yang menyusup berhasil menipu pasukan Ukraina hingga mereka meninggalkan pos komando.
“Jumlah pasukan kami sebenarnya cukup untuk mengusir tiga tentara Rusia itu. Namun alih-alih melawan, pos tersebut justru ditinggalkan,” ujarnya kepada penyiar publik Suspilne.
Sebagai respons, Resimen Serangan Terpisah ke-425 Ukraina melaporkan bahwa pasukannya telah memasuki Huliaipole dan memulai operasi pembersihan terhadap sisa-sisa pasukan Rusia. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan telah mengerahkan drone untuk menghambat masuknya bala bantuan Ukraina ke wilayah tersebut.
Meski demikian, dalam laporan situasi medan perang terbaru pada Sabtu, militer Ukraina menyebut pihaknya berhasil memukul mundur upaya Rusia untuk maju di sekitar Myrnohrad dan Huliaipole, sekaligus membantah klaim Rusia atas penguasaan penuh wilayah tersebut.
Serangan ke Kyiv Bayangi Upaya Perdamaian
Perkembangan di medan perang ini terjadi bersamaan dengan serangan besar-besaran Rusia ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Sabtu dini hari. Serangan yang melibatkan lebih dari 500 drone dan 40 rudal itu menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai lebih dari 20 lainnya, serta menghantam tujuh titik berbeda di kota, termasuk infrastruktur energi dan kawasan pemukiman.
Menanggapi serangan tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Rusia menunjukkan niat untuk melanjutkan perang, sementara Ukraina berupaya mendorong perdamaian. Serangan itu terjadi sehari sebelum pertemuan terjadwal Zelenskyy dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Florida, guna membahas rencana perdamaian yang disebut telah mencapai sekitar 90 persen kesepakatan.
Sementara itu, Presiden Putin menegaskan bahwa jika Ukraina menolak penyelesaian damai, Rusia akan tetap mencapai seluruh tujuan operasi militernya dengan cara militer.