Indonesia menghadapi ancaman besar gempa dan tsunami dari sedikitnya 14 zona megathrust yang membentang di berbagai wilayah. Peringatan ini disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024.
Peta terbaru tersebut mencatat penambahan satu zona megathrust baru dibandingkan peta tahun 2017 yang hanya memuat 13 zona. Artinya, potensi bahaya gempa besar dan tsunami di Indonesia kini dinilai semakin kompleks dan meluas.
Sepanjang tahun 2025, BMKG mencatat 43.439 kejadian gempa bumi di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 25 gempa menyebabkan kerusakan signifikan. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa rangkaian gempa tersebut tidak berkaitan dengan gempa megathrust besar yang mengguncang Jepang pada Agustus 2024.
Dua Zona Seismic Gap Jadi Sorotan
BMKG memberi perhatian khusus pada dua segmen megathrust berstatus seismic gap, yakni wilayah yang sudah ratusan tahun tidak melepaskan energi gempa besar.
Megathrust Selat Sunda terakhir kali memicu gempa besar pada tahun 1757, sementara segmen Mentawai–Siberut tercatat belum mengalami gempa besar sejak 1797.
Ahli seismologi BMKG Pepen Supendi menyebut, zona megathrust di selatan Jawa dan Sumatra berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 8,9. Dampaknya diperkirakan sangat luas, dengan guncangan kuat yang bisa dirasakan mulai dari Banten, Jawa Barat, Lampung, Sumatra bagian selatan, hingga Jakarta.
Hasil pemodelan BMKG menunjukkan, tinggi tsunami maksimum dapat mencapai 34 meter di sejumlah titik dekat pusat gempa, khususnya di pantai barat Sumatra bagian selatan serta pantai selatan Banten, termasuk kawasan Ujung Kulon.
Jakarta Tak Luput dari Ancaman
Peneliti kebencanaan geologi BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, memperingatkan bahwa jika megathrust di segmen selatan Jawa—seperti kawasan Pangandaran—pecah, tsunami setinggi hingga 20 meter dapat terjadi.
Menurut Rahma, pesisir Banten berpotensi diterjang tsunami setinggi 4 hingga 8 meter, sementara Lampung yang menghadap Selat Sunda diperkirakan terdampak secara menyeluruh.
Untuk Jakarta, tsunami diproyeksikan mencapai wilayah pesisir utara dengan ketinggian 1 hingga 1,8 meter, sekitar 2,5 jam setelah gempa. “Wilayah yang pertama kali terdampak adalah Jakarta Utara,” ujarnya.
Sementara itu, anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) sekaligus Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Iswandi Imran, menyoroti perubahan signifikan antara peta gempa 2017 dan 2024. Kontur yang semakin rapat pada peta terbaru menandakan peningkatan tingkat bahaya gempa di sejumlah wilayah.
Ia menambahkan, zona megathrust Jawa memiliki potensi gempa hingga magnitudo 9,1, sementara zona Aceh–Andaman bahkan berpotensi mencapai magnitudo 9,2, menjadikannya salah satu sumber gempa paling berbahaya di dunia.