WASHINGTON, AS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan tensi geopolitik global. Ia berpose memegang topi bertuliskan “Make Iran Great Again” yang telah ditandatanganinya, menyusul operasi militer Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal Januari 2026.
Foto tersebut dibagikan Senator Partai Republik Lindsey Graham, sekutu dekat Trump, melalui platform X. Keduanya berada di pesawat kepresidenan Air Force One saat kembali dari Florida ke Washington pada Minggu malam, 5 Januari 2026.
“Semoga Tuhan memberkati Panglima Tertinggi kita dan semua pria dan wanita pemberani yang bertugas di bawahnya,” tulis Graham dalam unggahannya.
Ia melanjutkan, “Saya bangga menjadi warga Amerika. Semoga Tuhan memberkati dan melindungi rakyat Iran yang pemberani yang sedang melawan tirani.”
Slogan pada topi itu, yang merupakan variasi dari motto kampanye ikonik Trump “Make America Great Again”, diinterpretasikan sebagai sinyal kuat dukungan terhadap perubahan rezim di Iran, di tengah gelombang protes anti-pemerintah yang masih berlangsung.
Graham sebelumnya juga sempat mengenakan topi serupa dalam sebuah wawancara. Saat itu, ia menyatakan harapannya agar tahun 2026 menjadi momentum bagi Iran untuk “dijadikan hebat kembali”.
Trump sendiri secara terbuka memperingatkan kemungkinan intervensi militer Amerika Serikat jika aparat keamanan Iran melakukan kekerasan terhadap para demonstran.
“Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan mendapat pukulan keras dari Amerika Serikat,” ujar Trump kepada wartawan, seperti dikutip media internasional.
Pihak Iran bereaksi keras. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan Teheran siap menghadapi segala bentuk agresi Amerika Serikat dan menegaskan bahwa Iran “tidak akan menyerah kepada musuh”.
Ancaman terbaru ini muncul di tengah eskalasi sebelumnya, termasuk serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. Serangan itu dibalas Iran dengan peluncuran rudal ke pangkalan militer AS di Qatar. Meski sempat tercapai gencatan senjata, Trump pekan lalu kembali mengancam akan melanjutkan operasi jika Iran membangun ulang program nuklir atau rudalnya.
Operasi penangkapan Maduro di Caracas, yang menewaskan puluhan tentara Venezuela serta melukai sejumlah personel Amerika Serikat, memicu spekulasi bahwa Iran bisa menjadi target berikutnya dalam kebijakan luar negeri agresif Trump.
Daftar Negara dalam Ancaman Trump
Dalam pernyataan lain di Air Force One pada hari yang sama, Trump memperluas daftar negara yang menjadi sasaran tekanan Washington. Negara-negara tersebut antara lain Kolombia, Kuba, Greenland, Meksiko, dan Iran.
Trump menegaskan klaim hak Amerika Serikat untuk bertindak di kawasan yang ia sebut sebagai “halaman belakang” Amerika. Ia juga memperingatkan Presiden Kolombia Gustavo Petro agar “berhati-hatilah”, dengan tudingan adanya hubungan dengan kartel narkoba. Trump turut mengklaim bahwa rezim Kuba “siap runtuh” tanpa subsidi dari Venezuela.
Terkait Greenland, Trump kembali mengulang ambisinya untuk mencaplok wilayah kaya mineral tersebut demi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen merespons keras dengan memperingatkan bahwa upaya paksa terhadap Greenland dapat mengakhiri aliansi NATO.
Sementara itu, untuk Meksiko, Trump mendesak Presiden Claudia Sheinbaum agar mengizinkan pasukan Amerika Serikat beroperasi langsung melawan kartel narkoba. Klaim tersebut langsung ditepis Sheinbaum dengan menegaskan prinsip kedaulatan nasional Meksiko.
Analis Brookings Institution, Asli Aydintasbas, mengkritik pendekatan Trump yang dinilainya terlalu gegabah dan berisiko memicu krisis lebih luas, baik di Amerika Latin maupun di Timur Tengah.
Meski demikian, Trump menegaskan ancamannya terhadap Iran berkaitan langsung dengan penanganan aksi protes di negara tersebut. Ia menyatakan Teheran akan “terkena dampak sangat berat” jika jatuh korban jiwa di kalangan demonstran. Namun, kepemimpinan Iran tetap bersikukuh menolak segala bentuk intervensi asing.
Perkembangan ini semakin menambah ketegangan global pasca-operasi di Venezuela, di mana Nicolas Maduro kini ditahan di Amerika Serikat dan menghadapi tuduhan terkait narkotika.