JAKARTA -Ketegangan geopolitik di Laut China Selatan kembali memanas menyusul kehadiran kapal induk bertenaga nuklir milik Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln (CVN-72), yang tengah melaksanakan patroli rutin di wilayah sengketa tersebut.
Angkatan Laut AS merilis sejumlah foto resmi pada Rabu (7/1/2026) yang memperlihatkan kapal induk kelas Nimitz itu melakukan operasi penerbangan intensif di Laut China Selatan. Armada udara yang dibawa mencakup jet tempur siluman F-35C Lightning II, varian khusus untuk operasi kapal induk, serta jet tempur F/A-18E/F Super Hornet dan pesawat serangan elektronik EA-18G Growler.
Pengerahan ini merupakan bagian dari strategi Washington untuk menjaga kebebasan navigasi di salah satu jalur perdagangan maritim tersibuk di dunia, sekaligus menegaskan komitmen terhadap sekutu regional seperti Filipina, yang memiliki klaim wilayah tumpang tindih dengan Beijing.
“Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln sedang melaksanakan operasi rutin di area operasi Armada Ketujuh AS. Armada Ketujuh, sebagai armada terbesar AS yang ditempatkan di garis depan, secara rutin berinteraksi dan beroperasi dengan sekutu serta mitra dalam menjaga kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” tulis pernyataan resmi Angkatan Laut AS yang dilansir The Associated Press.
Kapal induk tersebut didampingi tiga kapal perusak kelas Arleigh Burke, yakni USS Spruance (DDG-111), USS Michael Murphy (DDG-112), dan USS Frank E. Petersen Jr. (DDG-121). Komandan Gugus Tempur, Laksamana Muda Todd Whalen, menegaskan bahwa kehadiran armada ini menjadi bukti nyata dedikasi Amerika Serikat terhadap kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
Patroli ini berlangsung di tengah klaim teritorial luas China atas hampir seluruh Laut China Selatan berdasarkan apa yang disebut sebagai “hak sejarah”. Klaim tersebut bertentangan dengan klaim negara-negara tetangga seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei. China diketahui memiliki angkatan laut terbesar di dunia dari sisi jumlah kapal, sehingga Amerika Serikat secara konsisten mengerahkan kapal induk untuk menunjukkan kehadiran militernya dan mencegah potensi agresi.
Langkah ini sejalan dengan strategi keamanan nasional AS yang menekankan penolakan terhadap agresi di dalam wilayah “Rantai Pulau Pertama” atau First Island Chain, yang meliputi Jepang, Taiwan, dan Filipina. Gedung Putih menilai penguasaan kawasan tersebut oleh kekuatan saingan berpotensi mengancam keamanan global, termasuk risiko penerapan pungutan ilegal atau penutupan sepihak jalur perdagangan vital dunia.
USS Abraham Lincoln memulai penugasan ini sejak berlayar dari San Diego pada akhir November 2025. Sebelum memasuki Laut China Selatan, kapal induk tersebut sempat singgah di Guam pada pertengahan Desember untuk persiapan operasional lanjutan.
Hingga saat ini, Kementerian Luar Negeri China belum memberikan tanggapan resmi terkait kehadiran kapal induk AS tersebut. Namun, patroli ini diperkirakan akan menambah daftar panjang gesekan antara dua kekuatan besar dunia di kawasan Pasifik Barat, khususnya terkait isu kedaulatan maritim dan kebebasan navigasi internasional.
Sementara itu, masa depan operasional USS Abraham Lincoln di kawasan ini masih belum dapat dipastikan. Muncul spekulasi bahwa kapal induk tersebut berpotensi dialihkan ke Timur Tengah dalam waktu dekat, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang mengindikasikan kemungkinan intervensi terhadap Iran apabila Teheran terus melakukan tindakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa di negaranya.
Patroli rutin Amerika Serikat di Laut China Selatan tetap menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas kawasan, meskipun kerap memicu respons keras dari Beijing.
