BEIJING, CHINA – Ketegangan di perairan Laut China Selatan kembali memuncak setelah militer China mengusir kapal perang destroyer Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Higgins, dari wilayah sengketa Scarborough Shoal (Huangyan) pada Rabu, 13 Agustus 2025. Insiden ini memperhebat rivalitas antara Beijing dan Washington di jalur perdagangan strategis yang kaya sumber daya alam.
Menurut laporan stasiun televisi pemerintah China, CCTV, Komando Armada Selatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) menyatakan bahwa USS Higgins memasuki perairan teritorial China di sekitar Pulau Huangyan tanpa izin.
“Angkatan Laut Komando Armada Selatan PLA mengerahkan personel militer untuk melacak, memantau, memperingatkan, serta mengusir kapal perang AS sesuai hukum internasional,” bunyi pernyataan resmi PLA.
Militer China menegaskan bahwa tindakan AS ini merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan China, yang dapat mengganggu stabilitas kawasan Laut China Selatan. PLA juga menyebut aksi tersebut melanggar norma hubungan internasional, menambah panas situasi geopolitik di wilayah yang menjadi sengketa sejumlah negara, termasuk Filipina, Vietnam, dan Malaysia.
Hingga kini, pihak militer AS belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini. Namun, kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi. Laut China Selatan, yang merupakan jalur perdagangan senilai lebih dari 3 triliun dolar AS per tahun, kerap menjadi panggung konfrontasi antara kapal-kapal perang AS dan China. Washington kerap melakukan operasi “kebebasan navigasi” untuk menentang klaim China atas sebagian besar wilayah perairan tersebut, yang dinyatakan tidak sah oleh Pengadilan Arbitrase Internasional pada 2016.
Sengketa di Laut China Selatan melibatkan sejumlah wilayah strategis seperti Kepulauan Paracel, Spratly, dan Beting Scarborough. Kawasan ini tidak hanya kaya akan sumber daya alam seperti minyak dan gas, tetapi juga merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan Samudera Hindia dan Pasifik. China, yang mengklaim wilayah ini melalui “sembilan garis putus-putus,” sering kali bersitegang dengan negara-negara tetangga dan AS atas kehadiran militer di perairan tersebut.
Eskalasi Ketegangan Regional
Insiden terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas militer di kawasan. Baru-baru ini, China dan Rusia menggelar latihan perang gabungan yang melibatkan kapal perang dan kapal selam di Laut China Selatan, menambah ketegangan dengan negara-negara sekutu AS seperti Filipina. Sementara itu, Filipina juga melaporkan insiden serupa, termasuk aksi jet tempur China yang mengitari pesawat militer Filipina di wilayah sengketa.
Para analis memperingatkan bahwa eskalasi di Laut China Selatan dapat memicu konflik yang lebih luas jika tidak dikelola dengan diplomasi yang hati-hati.
“Laut China Selatan bukan hanya soal sengketa wilayah, tetapi juga pertarungan pengaruh global antara dua kekuatan besar,” ujar Dr. Liang Wei, pakar hubungan internasional dari Universitas Peking.
Dengan meningkatnya frekuensi insiden militer, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari AS dan China untuk mencegah konflik terbuka di salah satu kawasan paling strategis di dunia.