JAKARTA – Lewat PT Pupuk Indonesia Utilitas (PIU) selaku Anak Usaha, PT Rekayasa Industri (Rekind) Group mulai memperkuat kiprahnya di sektor energi baru terbarukan (EBT), khususnya dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap, sebagai bagian dari komitmen menuju masa depan energi yang lebih berkelanjutan.
Langkah ini diambil sebagai upaya transformasi perusahaan Industrial Process milik negara tersebut, yang selama ini dikenal konsisten memperkuat bisnis intinya di sektor high process, seperti oil and gas serta petrochemical melalui layanan EPC (Engineering, Procurement & Construction).
Kiprah Rekind di sektor EBT dikenal kuat melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang mulai digarap sejak tahun 90 an. Tapi, seiring langkah transformasi yang dijalankannya saat ini, Rekind mulai mengambil jalur strategis untuk membuka pintu masuk ekosistem energi bersih nasional melalui potensi PLTS bersama PIU.
“Rekind tidak hanya berfokus pada penguatan bisnis inti, tetapi juga aktif mendorong pengembangan bisnis baru melalui anak usaha yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Pemanfaatan PLTS atap ini juga menjadi salah satu bentuk nyata transformasi yang sedang kami jalankan,” ujar Direktur Utama Rekind Triyani Utaminingsih.
Hampir setahun terakhir Rekind-PIU mengembangkan sinergi. Di waktu tersebut PIU memulai pekerjaan instalasi PLTS Atap (sebagai pengembang) di Kantor Pusat Rekind, Kalibata, Jakarta Selatan, yang selama ini dikenal sebagai wilayah operasi selain di area proyek. Kemudian, pada tahap ini PIU resmi mengoperasikan PLTS Atap itu dengan kapasitas 126 kWp.
Sinergi ini menjadi langkah konkret Rekind dalam mengoptimalkan aset sekaligus meningkatkan portofolio PIU dalam mengembangkan efisiensi energi berbasis sumber terbarukan. “Bagi Rekind, implementasi energi terbarukan memberikan manfaat langsung berupa efisiensi biaya operasional serta kontribusi terhadap penurunan emisi. Sementara bagi PIU, proyek ini menjadi bagian dari penguatan portofolio bisnis PLTS yang saat ini mencapai total kapasitas yang dikerjakannya sekitar 150 kWp,” lanjut Triyani Utaminingsih.
Sejak memasuki bisnis PLTS pada 2022, PIU terus memperkuat kapabilitasnya dengan mengadopsi teknologi yang fleksibel dan tidak terikat pada vendor tertentu, sehingga mampu menyesuaikan kebutuhan proyek secara lebih efisien.
PLTS atap ini dirancang menggunakan skema on-grid dengan konfigurasi zero export, di mana seluruh energi yang dihasilkan dimanfaatkan untuk kebutuhan internal. Sistem ini diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 150 MWh listrik per tahun serta menurunkan emisi karbon hingga ±120 ton CO₂ per tahun.
“Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menciptakan nilai tambah dari aset yang dimiliki, sekaligus memperkuat daya saing di tengah transisi energi global,” terang Wanita yang akrab disapa Yani tersebut.