JAKARTA – Inggris kembali harus menunda ambisi mengakhiri penantian panjang gelar Piala Dunia 2026 setelah tersingkir di semifinal edisi 2026 akibat kekalahan menyakitkan dari Argentina.
Sebelum turnamen dimulai, The Three Lions termasuk favorit juara dengan peluang terbaik ketiga di belakang Spanyol yang akhirnya menjadi kampiun serta Prancis.
Harry Kane yang kembali dipercaya mengenakan ban kapten gagal membawa Inggris melangkah ke partai puncak setelah timnya kehilangan keunggulan pada fase akhir laga.
Hasil tersebut memicu gelombang kritik kepada pelatih Thomas Tuchel yang dinilai terlalu defensif melalui perubahan taktik dan pergantian pemain.
Meski demikian, Kane memilih berdiri di belakang sang pelatih dan menilai perjalanan Inggris hingga semifinal tidak lepas dari kontribusi besar Tuchel.
“Dia adalah salah satu alasan terbesar kami bisa sampai sejauh ini dan meraih pencapaian terbaik dalam 60 tahun terakhir,” kata Kane dilansir SB Nation, Rabu.
“Tentu masih banyak pertanyaan tentang apa yang terjadi malam itu saat melawan Argentina,” lanjut kapten Inggris tersebut.
“Dia adalah salah satu pelatih terbaik di dunia, tetapi bahkan pelatih terbaik pun bisa melakukan kesalahan dan hal itu juga berlaku bagi kami sebagai pemain.”
“Para suporter berhak merasa kecewa, sementara Thomas sudah memahami sejak menerima pekerjaan ini bahwa tekanannya akan sangat besar dan taruhannya sangat tinggi.”
Di sisi lain, Tuchel menilai anak asuhnya kehilangan keberanian bermain setelah memasuki babak akhir pertandingan melawan Argentina.
Namun, keputusan pelatih asal Jerman itu kembali dipertanyakan karena dianggap terlalu cepat mengubah pendekatan menyerang menjadi bertahan.
Kritik tersebut mengingatkan publik pada semifinal Liga Champions musim 2023/2024 saat Tuchel masih menangani Bayern Munich.
Kala itu Bayern sempat unggul melalui gol Alphonso Davies, tetapi Real Madrid membalikkan keadaan lewat dua gol Joselu dan melaju ke final.
Kegagalan serupa memperkuat anggapan bahwa strategi bertahan saat unggul masih menjadi titik lemah dalam pendekatan taktik Tuchel.
Bagi Inggris, evaluasi menyeluruh kini menjadi fokus utama demi mengakhiri puasa gelar Piala Dunia yang telah berlangsung sejak 1966.***