GABON – Pasukan Angkatan Laut Gabon tengah melakukan operasi pemburuan intensif terhadap pelaku pembajakan kapal penangkap ikan IB FISH 7, yang juga dikenal dengan nama Liang Peng Yu 828. Insiden tersebut terjadi pada 11 Januari 2026 di perairan Ekwata, Gabon, dan mengakibatkan penculikan sembilan awak kapal, termasuk empat warga negara Indonesia (WNI).
Peristiwa ini kembali menyoroti risiko keamanan di wilayah perairan Afrika Barat, yang dalam beberapa waktu terakhir kerap dilanda aksi pembajakan dan kejahatan maritim.
Berdasarkan informasi resmi dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, kapal tersebut diawaki 12 orang. Dari jumlah itu, sembilan awak diculik oleh para pelaku, dengan empat di antaranya merupakan WNI yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK). Sementara itu, tiga awak lainnya berhasil selamat dan tetap berada di atas kapal. Dua dari tiga awak yang selamat tersebut juga merupakan WNI dan dilaporkan dalam kondisi aman tanpa cedera serius.
Pelaksana Tugas Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, menyatakan bahwa Kemlu telah menerima laporan pembajakan yang terjadi pada 11 Januari 2026 terhadap kapal penangkap ikan IB FISH 7 di perairan Ekwata, Gabon. Ia menegaskan bahwa respons cepat langsung dilakukan untuk menangani situasi tersebut.
Otoritas Gabon segera mengerahkan pasukan Angkatan Laut untuk memburu para pelaku. Hingga kini, operasi masih berlangsung dengan fokus pencarian di perairan sekitar Ekwata yang dikenal rawan tindak kriminal maritim. Sebagai langkah pengamanan awal, tiga awak kapal yang selamat, termasuk dua WNI, telah dikawal oleh Angkatan Laut Gabon menuju Libreville untuk memastikan keselamatan mereka serta mendukung proses penyelidikan lebih lanjut.
“Pasukan AL Gabon tengah memburu para pelaku, dan 3 awak kapal (termasuk 2 WNI) yg berada di kapal IB FISH 7 telah dikawal oleh Angkatan Laut Gabon menuju ke Libreville,” katanya melalui keterangan tertulis.
Kemlu RI melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di Yaounde, Kamerun, yang juga merangkap wilayah kerja Gabon, langsung melakukan koordinasi setelah menerima laporan pembajakan.
Koordinasi dilakukan dengan otoritas Gabon, perusahaan pemilik kapal, agen perekrutan, serta pihak terkait lainnya. Upaya ini bertujuan mempercepat proses penyelamatan para awak yang diculik, memperoleh informasi terkini mengenai kondisi kesehatan WNI, serta memastikan pemenuhan hak-hak ketenagakerjaan bagi ABK WNI dan keluarga mereka.
Heni Hamidah menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam menangani kasus ini. Ia menyampaikan bahwa Kemlu dan KBRI Yaounde terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait guna mempercepat upaya penyelamatan, memantau kondisi kesehatan para WNI ABK, serta memastikan hak-hak mereka tetap dipenuhi.
Kasus ini menambah daftar tantangan yang dihadapi pekerja migran Indonesia di sektor maritim, khususnya di kawasan Afrika yang kerap menjadi sasaran aksi bajak laut. Sejumlah pengamat keamanan maritim menilai perairan Gabon dan sekitarnya rentan akibat terbatasnya patroli rutin serta faktor ekonomi yang mendorong kejahatan di laut.
Hingga saat ini, Kemlu RI dan KBRI Yaounde terus memantau perkembangan situasi secara intensif. Keselamatan para WNI yang diculik menjadi prioritas utama dalam penanganan kasus ini.
Pihak berwenang Gabon belum merilis informasi lebih lanjut terkait identitas pelaku maupun motif pembajakan. Namun, operasi pemburuan yang tengah berlangsung diharapkan dapat segera membuahkan hasil dan membebaskan para sandera. Keluarga korban di Indonesia telah mendapatkan pendampingan dari Kemlu, termasuk dukungan psikologis dan penyampaian informasi terkini.
Insiden ini menjadi pengingat bagi industri perikanan global untuk memperkuat protokol keamanan, termasuk pemanfaatan teknologi pelacakan serta peningkatan kerja sama lintas negara. Bagi Indonesia, peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya perlindungan menyeluruh bagi pekerja migran di luar negeri.